INDOPARAMETER – METRO, Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, langkah sederhana namun bermakna dilakukan oleh Sekretaris Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Provinsi Lampung, Heksasiwi Sukopuro. Bertempat di pekarangan rumah sekaligus sekretariat PPM Provinsi di Jalan Citra 1, Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro, ia memulai inisiatif penanaman cabe jawa—tanaman herbal khas nusantara yang kaya manfaat dan bernilai ekonomi tinggi. (28/5/2025)
Bukan di lahan luas atau area pertanian, tetapi di halaman rumah yang selama ini mungkin dianggap biasa saja. Justru dari lahan sederhana itulah Heksasiwi ingin mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat: bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari pekarangan sendiri.
“Kita tidak perlu menunggu proyek besar untuk bisa berkontribusi pada lingkungan dan ekonomi. Cukup melihat potensi di sekitar kita, lalu manfaatkan dengan bijak. Lahan kosong di rumah kita bisa jadi sumber penghidupan, sumber kesehatan, dan bahkan jadi ruang edukasi bagi orang lain,” ujar Heksasiwi dengan senyum hangat saat ditemui di sela-sela aktivitas menanam.
Cabe jawa, yang dalam tradisi dikenal sebagai Piper retrofractum, memiliki banyak manfaat, mulai dari pengobatan tradisional hingga bahan baku produk herbal komersial. Tanaman ini juga dikenal mudah tumbuh di iklim tropis seperti di Lampung. Menurut Heksasiwi, pilihan cabe jawa bukan hanya karena nilai jualnya yang tinggi, tapi juga sebagai bentuk pelestarian tanaman obat yang mulai jarang dibudidayakan di pekarangan rumah.
Lebih dari sekadar menanam, kegiatan ini adalah upaya menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya kemandirian herbal di tingkat rumah tangga. Dengan semangat memberdayakan dari bawah, PPM Lampung ingin membangun pemahaman bahwa pekarangan rumah bukanlah lahan sisa, melainkan ruang produktif yang bisa menghidupi dan menyehatkan.
“Bayangkan kalau setiap rumah di Kota Metro punya satu dua tanaman herbal, berapa banyak keluarga yang bisa lebih mandiri secara kesehatan? Dan kalau dikelola serius, hasilnya bahkan bisa dijual. Jadi ada nilai ekonominya juga,” tambahnya.
Langkah ini juga sekaligus menjadi kritik halus terhadap gaya hidup masyarakat urban yang cenderung abai terhadap potensi lingkungan rumah. Lahan-lahan kosong dibiarkan gersang, atau malah dijadikan tempat buang sampah. Padahal, jika sedikit saja dirawat, bisa menjadi kebun kecil yang produktif.
Heksasiwi mengaku bahwa inisiatif ini masih sangat awal, tapi semangat yang menyertainya besar. Ia berharap masyarakat dapat meniru langkah ini, mulai dari menanam cabe jawa, jahe, kunyit, atau tanaman obat lainnya, yang selain bermanfaat juga mudah ditanam. Ia juga berencana mengadakan pelatihan kecil-kecilan untuk warga sekitar yang tertarik belajar budidaya tanaman herbal.
“Gerakan ini bukan milik saya pribadi. Ini milik kita semua. Kalau ingin hidup sehat, mandiri, dan tetap terhubung dengan alam, mari kita mulai dari langkah kecil di rumah kita sendiri,” tutupnya.
Dengan semangat gotong royong dan keteladanan dari para penggeraknya, PPM Provinsi Lampung berharap gerakan ini akan terus bergulir dan menjadi contoh pemberdayaan berbasis lokal yang konkret. Dari satu pekarangan kecil di Metro Timur, tumbuh harapan besar untuk masa depan yang lebih hijau, sehat, dan mandiri.









