• Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
Jumat, Juli 31, 2026
INDOPARAMETER
  • Login
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
No Result
View All Result
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
No Result
View All Result
INDOPARAMETER
No Result
View All Result
Home Uncategorized

September, Luka yang Tak Selesai

by indoparameter
10 bulan ago
in Uncategorized
0
September, Luka yang Tak Selesai
13
SHARES
63
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Oleh: Candra Purnama

Kabid Hankam Himpunan Mahasiswa Islam cabang Metro yang sedang meneruskan studi Pascasarjana Universitas Indonesia

September datang lagi. Bulan kesembilan, yang semestinya menjadi jembatan menuju penghujung tahun dengan rasa lega, justru kembali menorehkan luka bagi Kota Metro—sebuah kota kecil yang kerap mengumandangkan slogan “Bahagia”, namun di balik senyum papan reklame dan sambutan pejabatnya, ada ratusan wajah buruh harian lepas yang hidup dalam ketidakpastian.

Di atas kertas, kota ini berdandan cantik. Jalan aspal mulus dipamerkan sebagai simbol pembangunan, lampu jalan berjejer seperti kunang-kunang buatan, dan gedung-gedung baru tegak gagah seperti monumen ambisi. Namun, di balik itu, ada 540 tenaga harian lepas yang dihantui kecemasan: akankah mereka masih punya tempat esok hari? Apalagi jumlah itu hanyalah angka formal—sebab masih banyak tenaga lain yang berada di luar hitungan, terombang-ambing nasibnya tanpa kepastian.

Pemerintah daerah, yang semestinya berdiri sebagai pelindung, sering kali justru tampil sebagai orator di panggung, menjual janji kesejahteraan seperti pedagang obat di pasar malam: manis di telinga, tapi tak pernah terbukti menyembuhkan. Retorika mereka menggema bak adzan yang tak pernah ditunaikan salatnya. “Metro Bahagia,” kata mereka. Bahagia macam apa yang bisa tumbuh di tanah dengan benih ketidakpastian?

—

Kota yang Mengulang Janji

Kota Metro ibarat panggung sandiwara yang tiap tahun memainkan lakon yang sama: janji perubahan, janji kesejahteraan, janji kepastian. Lakon itu ditulis dengan huruf-huruf besar dalam visi pembangunan, dibacakan berulang oleh pejabat, disebarkan lewat baliho dan media massa. Namun, setiap kali tirai ditutup, yang tertinggal hanyalah kekecewaan.

Para tenaga harian lepas, tulang punggung kecil roda birokrasi, tetap tak tahu akan bekerja sampai kapan. Tanpa kontrak pasti, tanpa jaminan hari depan, mereka seperti bidak catur yang bisa disingkirkan kapan saja. Padahal mereka yang menjaga kebersihan kantor, merapikan arsip, mengurus pekerjaan administratif yang nyaris tak terlihat—adalah darah yang mengalir di tubuh pemerintahan.

Namun, pejabat daerah tampak lebih sibuk dengan seremoni formal ketimbang merawat manusia yang berada di balik meja pelayanan. Ketidakmampuan, atau barangkali ketidakpedulian? Pertanyaan itu menggantung, dingin, tanpa jawaban.

—

Antara Retorika dan Realita

“Metro Bahagia.” Slogan itu terdengar seperti mantra yang dipaksa diulang-ulang, berharap realitas ikut tunduk. Tetapi bahagia versi siapa?

Bahagia versi pemerintah adalah jalan tanpa lubang, lampu kota terang benderang, festival tahunan dengan panggung besar, atau gedung baru yang difoto dari sudut indah. Namun bahagia bagi rakyat adalah sesuatu yang lebih sederhana: kepastian kerja agar dapur tetap berasap, pelayanan publik yang cepat, dan rasa aman menghadapi hari esok.

Ketika tenaga harian lepas terancam kehilangan pekerjaan, apakah lampu kota yang terang bisa menggantikan kecemasan seorang ayah yang tak tahu bagaimana membeli beras esok pagi? Apakah jalan mulus bisa menyuapi anak-anak yang menunggu lauk di meja makan? Infrastruktur tanpa keadilan ibarat bunga plastik: indah dipandang, tapi tak pernah menghidupi.

—

Koalisi yang Redup

Koalisi masyarakat yang digadang sebagai perwujudan suara rakyat pun sering tak lebih dari ornamen politik. Saat kampanye, mereka bersuara lantang, menepuk dada, menjanjikan diri sebagai jembatan antara rakyat dan penguasa. Namun setelah pemilihan, suara itu mengecil, berubah jadi bisikan, bahkan kadang menghilang sama sekali.

Demokrasi lokal seakan hanya menjadi drama musiman. Rakyat yang setia hadir di bilik suara, menyerahkan harapan lewat selembar kertas, hanya mendapat balasan berupa janji yang tak ditepati. Koalisi yang semestinya menjadi motor perubahan justru menjadi mesin hiasan: berisik di awal, sunyi di akhir.

—

Cinta yang Dipertanyakan

Pejabat daerah kerap menyebut kata “cinta kepada rakyat.” Tetapi cinta macam apa yang hanya hadir di podium, bergaung di mikrofon, lalu hilang tanpa jejak? Jika cinta sejati diukur dari tindakan, maka jelas, cinta yang mereka maksud tak lebih dari cinta monyet: manis di bibir, kosong di hati.

Rakyat menanti cinta yang lebih nyata: kebijakan inklusif, pelayanan publik merata, keberanian mendengar suara pinggiran. Tetapi yang terdengar hanyalah fatamorgana: janji-janji yang terlihat indah dari jauh, namun lenyap begitu didekati.

—

Wakil Rakyat, Wakil Siapa?

Di tengah kekecewaan itu, lagu lama Iwan Fals kembali bergema: Wakil Rakyat, seharusnya merakyat… Sebuah sindiran yang tak pernah kehilangan relevansi.

Wakil rakyat seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat. Namun faktanya, ada wakil yang justru mengusulkan agar tenaga harian lepas dirumahkan, seakan merekalah beban utama kota ini. Rakyat yang mempercayakan suara, kini merasa ditikam dari belakang.

Apakah benar mereka menjadi beban? Ataukah beban sesungguhnya justru berada pada kursi empuk, perjalanan dinas, rapat tanpa ujung yang menghabiskan anggaran? Pertanyaan ini, lagi-lagi, dibiarkan menggantung di udara kota.

—

Antara Doa, Harapan, dan Keberanian

Harapan rakyat bukan sekadar doa yang ditinggikan, bukan sekadar nyanyian yang dinyanyikan. Harapan menuntut keberanian: keberanian pemimpin untuk mengambil keputusan tak populer, keberanian mengutamakan rakyat di atas kepentingan partai, keberanian membuka diri pada transparansi.

Jika anggaran terbatas, katakan dengan jujur. Jika ada hambatan struktural, jelaskan dengan terbuka. Rakyat bukan anak kecil yang bisa dibujuk dengan permen janji. Mereka berhak atas kejelasan, berhak atas keadilan.

Koalisi masyarakat pun harus diberdayakan secara nyata, bukan sebagai figuran politik. Demokrasi hanya berarti ketika rakyat benar-benar dilibatkan, bukan sekadar ditontonkan.

—

Ketangguhan Rakyat

Meski kecewa, meski sering diabaikan, rakyat Kota Metro tetap tangguh. Mereka terus bertahan, bekerja, menyuarakan hak, meski suara itu kerap dianggap angin lalu.

Mungkin, keajaiban sejati kota ini bukan datang dari gedung pemerintahan, melainkan dari kegigihan rakyatnya yang enggan menyerah. Perubahan sejati tak turun dari langit, ia lahir dari keberanian rakyat untuk terus menuntut, mendesak, dan bertahan.

September kali ini mungkin masih penuh catatan merah. Tetapi, siapa tahu, satu hari nanti, bulan ini menjadi permulaan bab baru yang penuh cahaya, bukan lagi catatan luka.

—

Penutup: Antara Rokok dan Renungan

Kota kecil ini masih punya kesempatan untuk bangkit. “Metro Bahagia” tak harus menjadi lelucon, ia bisa jadi kenyataan, jika saja ada kemauan untuk mengubah cara berpikir. Kepada pemerintah, inilah saatnya membuktikan bahwa janji bukan sekadar kata. Kepada rakyat, teruslah bersuara, sebab suara kalian adalah denyut nadi kota.

September, semoga kelak kau bukan lagi bulan penutup yang kelam, melainkan awal dari kebahagiaan yang sederhana: kepastian, keadilan, dan rasa aman.

Penulis kembali menyalakan sebatang rokok yang padam di samping gelas kopi miliknya. Asapnya naik pelan, seperti doa yang tak pernah berhenti menggapai langit—meski entah kapan langit mau mendengarkan.

indoparameter

indoparameter

Next Post
Momentum Menyatukan Semangat Kemerdekaan Bangsa

1 Oktober Adalah Hari Kesaktian Pancasila:Marindo kita harus selalu menjunjung tinggi norma norma yang ada di UUD dan Pancasila

ADVERTISEMENT

Recommended

Anggota DPRD Muhammad Suhada,kembali menggelar sosialisasi PIP-WK,tanamkan karakter kepada remaja

Anggota DPRD Muhammad Suhada,kembali menggelar sosialisasi PIP-WK,tanamkan karakter kepada remaja

9 bulan ago
Polres Metro Tingkatkan Patroli Debit Air, Antisipasi Bencana Banjir

Polres Metro Tingkatkan Patroli Debit Air, Antisipasi Bencana Banjir

2 tahun ago

Popular News

  • Raja Cepat Buka Lowongan Kerja untuk Posisi Helper dan Driver Motoris

    Raja Cepat Buka Lowongan Kerja untuk Posisi Helper dan Driver Motoris

    12 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela Ikuti Gladi Kotor Pelantikan di Monas

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Rakerda Perdana Relawan RMD Lampung Dorong Penguatan Gerakan Sosial Kemasyarakatan

    12 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Wakil Gubernur Lampung Lantik Imam Ghozali

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Ketika AI Bikin Kita Terpingkal dan Terbingung: Antara Harapan, Hoaks, dan ‘FOMO’ Pemerintah

    16 shares
    Share 6 Tweet 4

Daerah

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan
Bandar Lampung

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan

by indoparameter
Mei 19, 2026
0

Bandar Lampung — indoparameter.com, Sekretariat Bersama (Sekber) tiga asosiasi media konstituen Dewan Pers di Provinsi Lampung yang terdiri dari SMSI,...

Read more
MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

Mei 18, 2026

Network

Category

  • Bandar Lampung
  • Budaya
  • Business
  • Cerpen
  • Daerah
  • DPRD Bandar Lampung
  • DPRD Lampung
  • Ekonomi
  • Health
  • Hukum
  • Indoparameter TV
  • Informasi
  • jakarta
  • Kuliner
  • Kuliner Metro
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Lifestyle
  • Makanan
  • Metro
  • Nasional
  • Olah raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pengenalan Produk
  • Politics
  • Politik
  • PROVINSI LAMPUNG
  • Puisi
  • shopee
  • Sosial
  • Sports
  • Travel
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Way Kanan
  • Zona Tauhid

Pemerintahan

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan
Bandar Lampung

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan

by indoparameter
Mei 19, 2026
0

Bandar Lampung — indoparameter.com, Sekretariat Bersama (Sekber) tiga asosiasi media konstituen Dewan Pers di Provinsi Lampung yang terdiri dari SMSI,...

Read more
MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran
Bandar Lampung

MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

by indoparameter
Mei 18, 2026
0

(SMSI) Bandar Lampung – INDOPARAMETER.COM, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program nasional pemerintah sebagai upaya meningkatkan...

Read more
  • Laman Depan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2021 IndoParameter - Premium Theme.

No Result
View All Result
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini

© 2021 IndoParameter - Premium Theme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In