Metro, Indoparameter.com – Harga gas LPG 3 kilogram di Kota Metro mengalami ketidakstabilan, dengan variasi harga yang cukup signifikan di berbagai pengecer. Menjelang bulan Ramadan, warga mulai khawatir bahwa kenaikan harga ini bisa berdampak lebih luas, terutama terhadap inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
Meskipun pasokan LPG 3 kg mulai kembali normal setelah sempat langka akibat polemik larangan pengecer menjual LPG bersubsidi, harga jualnya kini tidak seragam. Beberapa pengecer menjual gas dengan harga lebih tinggi dari biasanya, sementara warga mengaku kesulitan mendapatkan harga yang wajar.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang bergantung pada LPG 3 kg untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Harga Berbeda di Tiap Tempat, Warga Bingung
Yeni (43), warga Hadimulyo Barat, mengeluhkan harga LPG 3 kg yang bervariasi di setiap tempat.
“Biasanya saya beli di warung langganan dengan harga Rp25 ribu. Tapi waktu stok habis, saya cari di tempat lain, dan harganya bisa sampai Rp27 ribu. Ini baru 2 atau 3 hari yang lalu. Harganya berubah-ubah, tergantung beli di mana,” ujar Yeni, Minggu (9/2/2025).
Senada dengan Yeni, Yanti (45), seorang ibu rumah tangga lainnya, juga menyampaikan keresahannya. Menurutnya, beberapa waktu lalu LPG 3 kg sempat sulit ditemukan di warung-warung kecil akibat kebijakan larangan pengecer menjual gas bersubsidi.
“Waktu ada aturan larangan jual buat pengecer, gas jadi agak sulit dicari. Ada, tapi stoknya terbatas, dan harganya pun naik. Mungkin pengecer takut-takut mau jualan karena aturannya belum jelas waktu itu,” katanya.
Menurut Yanti, meskipun sekarang pengecer kembali menjual LPG 3 kg, harga jualnya tidak stabil.
“Sekarang sudah mulai gampang didapat, tapi harganya beda-beda. Saya pernah beli di satu tempat Rp26 ribu, tapi di tempat lain sampai Rp28 ribu. Kita jadi bingung, mana yang sebenarnya harga normal,” keluhnya.
Dampak Terhadap Kebutuhan Sehari-hari
Ketidakstabilan harga LPG 3 kg ini dikhawatirkan akan berdampak lebih luas, terutama menjelang Ramadan. Warga khawatir jika harga LPG terus meningkat, maka harga bahan pokok lainnya juga akan ikut naik, menyebabkan inflasi yang lebih tinggi.
“Gas itu kebutuhan pokok buat masak. Kalau harganya naik, nanti harga makanan di pasar juga bisa naik. Pedagang pasti ikut menyesuaikan harga kalau modalnya bertambah,” ujar Yanti.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh pedagang makanan di Kota Metro. Siti (50), seorang penjual gorengan di kawasan Pasar Kopindo, menyebutkan bahwa kenaikan harga LPG 3 kg sangat mempengaruhi usaha kecil seperti miliknya.
“Kalau gas mahal, saya harus naikkan harga gorengan saya. Soalnya minyak juga sudah mahal, tepung mahal. Kalau semuanya naik, pembeli juga pasti mengeluh,” kata Siti.
Pemerintah Diminta Bertindak
Warga Kota Metro berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil tindakan untuk mengontrol harga LPG 3 kg agar tetap stabil.
“Sebentar lagi masuk Ramadan, kebutuhan pasti meningkat. Kalau harga gas terus naik, bisa-bisa harga barang lain ikut naik. Kami berharap ada pengawasan dari pemerintah biar harganya tetap wajar,” ujar Yeni.
Pemerintah diharapkan dapat memastikan distribusi LPG 3 kg berjalan lancar dan menindak pengecer yang menaikkan harga di luar batas kewajaran. Selain itu, transparansi harga di tingkat agen dan pangkalan juga perlu diperjelas agar masyarakat tidak merasa dirugikan.
Hingga saat ini, belum ada kebijakan resmi dari pemerintah daerah terkait pengawasan ketat harga LPG 3 kg di Kota Metro. Masyarakat berharap ada langkah konkret untuk memastikan harga LPG tetap terjangkau menjelang bulan puasa. (red/)









