Way Kanan, Indoparameter.com – Rutinan dua mingguan Majelis Pengajian Rutinan (MPR) Way Kanan kembali berlangsung pada Jumat malam, 14 Februari 2025. Acara tersebut digelar di halaman Musholla Miftahul Jannah, Desa Balirejo, Kampung Negeri Batin, Kecamatan Umpu Semenguk, Kabupaten Way Kanan. Suasana khidmat dan kebersamaan terasa sejak awal hingga akhir acara, yang dihadiri oleh ribuan jamaah.
Duduk rapi di atas terpal yang telah disediakan panitia, para jamaah dengan tertib mencari tempat tanpa harus diarahkan. Tanpa adanya desak-desakan maupun rebutan, mereka saling memberikan ruang satu sama lain. Pemandangan jamaah yang duduk rapi dan tenang ini menciptakan suasana yang menenangkan, sekaligus menunjukkan keharmonisan di antara mereka.

Ceramah Ketauhidan yang Mendalam
Rangkaian acara dimulai dengan Mauidhoh Hasanah oleh Pembina MPR Way Kanan, Cak Imam Masduki. Dalam ceramahnya, Cak Imam menekankan pentingnya tauhid sebagai pondasi utama kehidupan beragama. Ia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman tauhid yang benar, hidup seseorang akan kehilangan arah dan tujuan. Cak Imam mengajak jamaah untuk menyisihkan waktu mempelajari tauhid, membersihkan hati dari segala bentuk syirik, dan mendalami hakikat keimanan.
“Tauhid adalah fondasi kita. Jika tauhid kita kuat, arah kehidupan kita pun akan jelas. Jangan biarkan kehidupan kita kehilangan tujuan. Pelajari tauhid, pahami hakikat keimanan, dan jauhi syirik,” pesan Cak Imam dalam ceramahnya.
Bersholawat Bersama dengan Iringan Hadroh
Setelah ceramah selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan tawashul yang dipimpin oleh ustadz Mudhofir. Setelah itu, jamaah bersama-sama melantunkan sholawat dan maulid Simtudduror. Tim hadroh MPR Way Kanan yang dipimpin oleh Mas Zainal Abidin dan rekan-rekannya tampil kompak dengan irama yang harmonis. Suara merdu tim hadroh membawa suasana menjadi semakin khusyuk. Semua jamaah larut dalam lantunan doa, membaca teks kitab maulid, bersholawat bersama hingga puncak acara, yaitu Mahalul Qiyam.
Suasana semakin syahdu saat semua jamaah menundukkan kepala, memanjatkan doa, dan menengadahkan tangan. Kekhidmatan ini berlangsung hingga acara ditutup dengan doa bersama. Seluruh jamaah terlihat fokus, khusyuk, dan larut dalam suasana religius yang mendalam.

Tradisi Makan Bersama sebagai Penutup
Setelah rangkaian zikir dan doa selesai, tradisi makan bersama menjadi penutup acara. Sejak pertama kali MPR Way Kanan didirikan, tradisi makan bersama ini selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tak peduli seberapa banyak jamaah yang hadir, panitia selalu memastikan semua mendapatkan bagian. Bahkan, para pedagang yang berada di sekitar lokasi acara pun diundang untuk menikmati santapan yang tersedia.
Tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi di antara jamaah, tetapi juga mencerminkan semangat berbagi dan kebersamaan yang tinggi. Kebiasaan makan bersama ini telah menjadi simbol persaudaraan yang kuat di lingkungan MPR Way Kanan, di mana semua orang disambut dengan tangan terbuka.
Menjaga Spiritualitas dan Kekeluargaan
Rutinan dua mingguan MPR Way Kanan telah membuktikan dirinya sebagai ajang yang tidak hanya memperdalam sisi spiritual para jamaah, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat nilai-nilai kekeluargaan. Dengan ceramah yang menginspirasi, sholawat yang khusyuk, dan kebersamaan saat makan bersama, kegiatan ini menjadi momen yang selalu dinanti oleh masyarakat Kampung Negeri Batin dan sekitarnya. (red/)









