• Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
Senin, Juni 15, 2026
INDOPARAMETER
  • Login
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
No Result
View All Result
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini
No Result
View All Result
INDOPARAMETER
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika AI Bikin Kita Terpingkal dan Terbingung: Antara Harapan, Hoaks, dan ‘FOMO’ Pemerintah

by indoparameter
10 bulan ago
in Opini
0
Ketika AI Bikin Kita Terpingkal dan Terbingung: Antara Harapan, Hoaks, dan ‘FOMO’ Pemerintah
15
SHARES
70
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Oleh: Ahmad Satibi

Dulu, kalau bicara kecerdasan buatan atau AI, rasanya seperti cerita fiksi ilmiah yang jauh di awang-awang. Robot-robot canggih, komputer yang bisa berpikir sendiri, semua itu cuma ada di film Hollywood. Tapi coba lihat sekarang. AI itu sudah ada di mana-mana, di saku kita, di rumah kita, bahkan mungkin di meja kerja kita. Seringkali, kita memakainya tanpa sadar, tanpa tahu persis apa itu AI. Ibaratnya, kita pakai mobil, tapi tak perlu tahu detail mesinnya. Yang penting jalan, bukan?

AI di Balik Layar: Kita Pakai Apa Saja Sih?

Coba Anda cek ponsel Anda. Saat mencari informasi di internet, AI bekerja di baliknya.1 Saat belanja online, AI membantu merekomendasikan barang yang mungkin Anda suka.1 Bahkan, saat mengedit foto atau video, AI ikut campur tangan.1 Tak heran, survei menunjukkan mayoritas orang Indonesia, sekitar 81,2%, paling sering menggunakan AI untuk mencari informasi. Lalu, belanja online di posisi kedua dengan 46,7%.1 Ini menunjukkan, AI sudah jadi ‘asisten tak terlihat’ yang bikin hidup kita lebih gampang. Dari semua ‘asisten’ itu, ChatGPT paling populer, dipilih 71% responden di Indonesia.2 AI juga merambah ke sektor-sektor vital, dari kesehatan, reformasi birokrasi, sampai ketahanan pangan.3 Jadi, AI ini bukan lagi barang mewah, tapi sudah jadi kebutuhan sehari-hari.

Persepsi Publik: Optimis Tapi Dangkal?

Menariknya, orang Indonesia ini punya rasa percaya diri yang tinggi soal AI. Survei Ipsos AI Monitor 2024 bilang, 86% responden kita merasa paham betul apa itu AI. Angka ini jauh di atas Singapura atau Jepang.4 Kita juga optimis, 41% ‘sangat antusias’ dengan AI.5 Bahkan, 68% percaya AI tidak akan diskriminasi.4 Hebat, bukan? Tapi, tunggu dulu. Apakah pemahaman ini benar-benar mendalam? Jangan-jangan, optimisme ini cuma di permukaan saja. Ibaratnya, kita merasa tahu banyak tentang laut, padahal baru sebatas bibir pantai.

Paradoksnya, hampir separuh dari kita, 48%, berharap AI bisa mengurangi berita hoaks di internet.4 Padahal, di sisi lain, AI justru jadi mesin canggih pembuat hoaks dan deepfake yang makin sulit dibedakan dari aslinya.6 Ini kan lucu, sekaligus miris. Kita berharap AI jadi pemadam api, tapi dia sendiri yang menyulut api. Di tingkat lokal, seperti di Lampung atau Kota Metro, obrolan tentang AI ini masih ‘adem ayem’. Media lokal lebih sibuk memberitakan insiden penganiayaan anak, drama asmara, atau kasus korupsi APBD.9 AI mungkin masih jadi konsep abstrak, teknologi di balik layar yang tak banyak dibahas di warung kopi atau grup WhatsApp lokal.

Ketika AI Bikin Geger (dan Kadang Senyum Kecut): Insiden Viral

Kalau bicara AI viral, bukan cuma soal hoaks gerhana matahari yang bikin geger itu.17 Ada juga deepfake politik yang bikin kita geleng-geleng kepala. Ingat video mendiang Presiden Soeharto yang tiba-tiba ‘muncul’ lagi mendukung partai politik? Atau Presiden Jokowi yang ‘berbicara’ bahasa Mandarin? 6 Ini bukan lucu, tapi bikin kita mikir, ‘Wah, bahaya juga kalau disalahgunakan.’

Tapi ada juga yang bikin senyum kecut. Ingat iklan program makan bergizi gratis dari Kementerian Komunikasi dan Digital? Video yang katanya dibuat pakai AI itu malah jadi bulan-bulanan netizen. Jari-jari karakternya kaku, kotak makanannya terlihat ‘ngambang’ dan tidak realistis.20 Netizen langsung nyinyir, “Kampanye sekelas kementerian saja pakai AI, jangan harap industri animasi/kreatif berkembang. Pemerintah/kementerian saja tidak mendukungnya”.20 Ini menunjukkan, publik kita ini cerdas. Meski mungkin tak paham teknis AI, mereka bisa merasakan mana yang ‘palsu’ atau ‘tidak natural’. Ini semacam ‘kejadian lucu’ yang justru jadi pelajaran berharga: AI itu belum sempurna, dan mata manusia masih jadi filter terbaik. Bahkan, ada studi yang bilang, penggunaan AI terang-terangan dalam percakapan bisa menimbulkan kesan ‘anti-sosial’.21 Jadi, AI ini memang pintar, tapi belum tentu ‘berperasaan’.

“FOMO” Pemerintah dan Tantangan di Depan Mata

Di tengah hiruk pikuk AI ini, jangan-jangan pemerintah kita juga kena ‘FOMO’ alias Fear Of Missing Out. Bayangkan, setelah DeepSeek bikin geger pasar global, tiba-tiba ada wacana Indonesia mau bikin ChatGPT sendiri.3 Niatnya sih bagus, ingin bersaing di kancah global. Tapi, apakah ini benar-benar strategis? Atau cuma ikut-ikutan biar tidak ketinggalan zaman?

Padahal, potensi ekonomi AI di Indonesia itu luar biasa, bisa mencapai US$366 miliar pada 2030.3 Tapi, kalau sumber daya kita habis untuk ‘tontonan AI generatif’ yang belum tentu mendesak, bagaimana dengan aplikasi AI yang lebih praktis dan langsung dirasakan rakyat? Misalnya, untuk pertanian, kesehatan, atau membantu usaha kecil.3 Ini kan yang lebih penting. Belum lagi tantangan infrastruktur kita yang masih terbatas, data yang belum berkualitas, dan regulasi yang masih bolong soal

deepfake.22 AI ini memang alat yang dahsyat, tapi kalau pondasinya belum kuat, ya percuma.

Penutup: AI, Cermin Kita Sendiri

Pada akhirnya, AI ini seperti cermin. Ia memantulkan siapa kita, seberapa jauh pemahaman kita, dan seberapa bijak kita dalam menggunakannya. Optimisme itu bagus, tapi harus dibarengi dengan pemahaman yang kritis. Jangan sampai kita terlalu percaya pada AI, sampai lupa bahwa di balik kecanggihannya, ada tangan manusia yang memprogram, dan ada bias manusia yang bisa ikut masuk.2

Pemerintah perlu lebih fokus pada pengembangan AI yang membumi, yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat, bukan sekadar mengejar gengsi global. Literasi digital harus terus digalakkan, agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks atau deepfake yang makin cila.6 Dan yang terpenting, kita semua harus ingat, AI itu alat. Alat yang bisa jadi berkah, bisa juga jadi musibah. Tergantung siapa yang memegang, dan untuk apa ia digunakan. Jadi, mari kita jadi pengguna AI yang cerdas, bukan sekadar terpingkal atau terbingung-bingung.

Laporan Riset

Lanskap Kecerdasan Buatan di Indonesia: Isu, Persepsi, Aplikasi, dan Kedangkalan Pemahaman

Executive Summary

Laporan ini menyajikan gambaran komprehensif mengenai lanskap Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia, menyoroti isu-isu utama, persepsi masyarakat di tingkat nasional dan lokal, aplikasi umum AI, dan kedangkalan pemahaman yang masih meluas. Analisis ini mengungkapkan adanya paradoks dalam persepsi publik, di mana optimisme dan rasa pemahaman yang tinggi terhadap AI berdampingan dengan kesalahpahaman mendalam dan kerentanan terhadap disinformasi. Pendekatan pemerintah terhadap pengembangan AI terkadang menunjukkan “FOMO” (Fear Of Missing Out), berpotensi mengalokasikan sumber daya pada proyek-proyek spektakuler alih-alih aplikasi praktis yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Insiden viral terkait AI, seperti deepfake politik dan iklan yang dihasilkan AI, menyoroti celah etika dan regulasi, serta menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengenali ketidaksempurnaan AI. Rekomendasi strategis menekankan pentingnya peningkatan literasi AI kritis, penguatan kerangka etika dan regulasi, penyesuaian strategi pengembangan AI yang lebih berorientasi pada kebutuhan, dan upaya menjembatani kesenjangan pemahaman antara tingkat nasional dan lokal.

1. Introduction: Menjelajahi Lanskap AI di Indonesia

Kecerdasan Buatan (AI) dengan cepat mengubah berbagai sektor di seluruh dunia, dan Indonesia tidak terkecuali. Negara ini menyadari potensi kontribusi ekonomi AI yang diperkirakan mencapai US$366 miliar pada tahun 2030 1, dan telah meluncurkan Strategi Nasional AI untuk periode 2020–2045.1 Namun, integrasi dan persepsi publik terhadap AI di Indonesia bersifat kompleks, ditandai oleh harapan besar sekaligus tantangan signifikan. Laporan ini mengkaji hubungan multifaset antara masyarakat Indonesia dan AI, meneliti isu-isu utama, sentimen publik, aplikasi umum, serta pemahaman yang dangkal yang membentuk adopsi dan dampak sosialnya.

 

2. Isu dan Tantangan Utama dalam Pengembangan AI di Indonesia

 

Pengembangan dan implementasi AI di Indonesia menghadapi serangkaian tantangan yang kompleks, mulai dari kerangka kebijakan hingga infrastruktur dasar. Pemahaman mendalam tentang hambatan ini sangat penting untuk merumuskan strategi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

2.1. Kerangka Kebijakan dan Tata Kelola: Mengatasi Celah Etika dan Penyalahgunaan

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan pedoman etika untuk penggunaan AI, khususnya dalam upaya memerangi deepfake.2 Pedoman ini menekankan peran AI dalam mendukung aktivitas manusia, menjaga privasi data, dan perlunya pengawasan untuk mencegah penyalahgunaan.2 Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan asosiasi

FinTech juga telah merilis pedoman etika untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor teknologi finansial.2 Langkah-langkah ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya kerangka etika di tengah kemajuan pesat AI.

Namun, meskipun pedoman etika telah ada, lanskap hukum di Indonesia saat ini masih belum memiliki peraturan pemerintah yang spesifik mengenai deepfake dan manipulasi gambar atau video yang didorong oleh AI.2 Ini berarti bahwa konten AI yang berbahaya, jika tidak secara eksplisit dilaporkan sebagai tindakan pidana atau tidak secara demonstratif menyebabkan kerugian langsung, mungkin berada dalam area abu-abu hukum, sehingga menyulitkan penuntutan berdasarkan undang-undang “hoaks” yang lebih umum.2 Kesenjangan regulasi ini menciptakan kerentanan bagi publik dan tantangan bagi penegak hukum, berpotensi memungkinkan konten yang dihasilkan AI untuk berkembang biak dan merusak kepercayaan publik. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah mengakui masalah etika, alat hukum untuk secara efektif memerangi disinformasi dan manipulasi yang didorong oleh AI masih dalam tahap awal. Ketergantungan pada klasifikasi “hoaks” dan kebutuhan akan pengaduan eksplisit untuk penuntutan menunjukkan kerangka hukum yang lebih reaktif daripada proaktif, yang dapat dengan mudah dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

2.2. Keterbatasan Infrastruktur dan Kualitas Data

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan AI di Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur teknologi.3 Ini mencakup kebutuhan akan jaringan internet yang cepat dan andal, pusat data yang memadai, dan perangkat keras yang kuat.3 Selain itu, akses terhadap data berkualitas juga menjadi masalah yang meluas. Data yang tersedia seringkali tidak lengkap, tidak terstruktur, atau tidak akurat, di samping masalah privasi dan keamanan data yang terus-menerus muncul.3

Keterbatasan infrastruktur teknologi dan kualitas data bukanlah masalah yang terisolasi, melainkan membentuk hambatan yang saling terkait bagi ambisi AI Indonesia. Infrastruktur yang buruk, seperti internet yang lambat atau pusat data yang tidak memadai, secara langsung menghambat pengumpulan, pemrosesan, dan penyimpanan data berkualitas tinggi dalam jumlah besar, yang merupakan “bahan bakar” bagi AI.3 Hal ini menciptakan hambatan mendasar untuk mengembangkan model AI canggih yang relevan secara lokal, yang berpotensi mendorong ketergantungan pada teknologi asing atau pendekatan “FOMO Pemerintah” yang memprioritaskan kemajuan dangkal daripada pengembangan mendalam dan fundamental. Tanpa jaringan yang kuat dan pusat data yang memadai, pengumpulan, pembersihan, dan penyimpanan kumpulan data besar dan beragam yang dibutuhkan untuk AI canggih menjadi tidak efisien dan mahal. Ini berarti bahwa meskipun data ada, utilitasnya terbatas oleh kemampuan untuk memprosesnya. Kondisi ini menciptakan hambatan sistemik untuk mengembangkan solusi AI yang benar-benar kompetitif dan relevan secara kontekstual, mendorong Indonesia menuju strategi “FOMO” yang reaktif daripada inovasi organik yang didorong oleh data.

2.3. “FOMO Pemerintah” dan Perencanaan Strategis

Minat Indonesia yang diungkapkan untuk mengembangkan kesetaraan ChatGPT-nya sendiri, menyusul gangguan pasar oleh DeepSeek, dicirikan sebagai “FOMO Pemerintah” (Fear Of Missing Out) daripada rencana strategis yang matang.1 Pendekatan reaktif ini berisiko salah mengalokasikan sumber daya untuk “tontonan AI generatif” 1, mengalihkan fokus dari aplikasi yang lebih praktis dan berdampak di sektor-sektor penting seperti pertanian, perawatan kesehatan, dan dukungan usaha kecil, yang secara eksplisit merupakan bagian dari Strategi Nasional AI 2020-2045.1

“FOMO Pemerintah” mungkin merupakan gejala dari masalah yang lebih luas: penggunaan retorika AI secara strategis untuk keuntungan politik. AI “sering disebutkan dalam debat calon presiden dan kepala daerah untuk mendapatkan perhatian dan kekaguman publik terhadap masa depan teknologi yang menjanjikan”.1 Hal ini menunjukkan bahwa beberapa inisiatif AI mungkin lebih didorong oleh narasi politik dan manajemen persepsi publik—memproyeksikan citra kepemimpinan teknologi—daripada pengembangan strategis jangka panjang yang sejalan dengan fokus Strategi Nasional AI pada aplikasi praktis yang berorientasi pada kesejahteraan. Potensi ketidaksesuaian antara pengumuman politik tingkat tinggi dan implementasi di lapangan ini dapat menyebabkan pemborosan sumber daya, janji yang tidak terpenuhi, dan pada akhirnya, kekecewaan publik, merusak kepercayaan dan optimisme yang dilaporkan dalam survei nasional. Dengan mengumumkan proyek-proyek AI yang ambisius dan berprofil tinggi seperti GPT nasional, para pemimpin politik dapat memanfaatkan optimisme publik tentang AI untuk meningkatkan citra mereka dan mendapatkan dukungan. Politisasi pengembangan AI ini berisiko memprioritaskan pencapaian simbolis daripada aplikasi yang nyata dan berdampak yang mengatasi masalah sosial riil. Konsekuensinya adalah potensi “tontonan AI” yang menghabiskan sumber daya tetapi gagal memberikan manfaat yang berarti, berkontribusi pada pemahaman publik yang dangkal dengan menyajikan gambaran yang tidak realistis tentang kemampuan dan prioritas AI saat ini.

3. Persepsi Publik tentang AI: Perspektif Ganda (Nasional & Lokal)

Persepsi publik memainkan peran krusial dalam adopsi dan integrasi teknologi baru. Di Indonesia, pandangan terhadap AI menunjukkan dinamika yang menarik antara optimisme nasional dan kesenjangan di tingkat lokal.

3.1. Sentimen Nasional: Optimisme, Kepercayaan, dan Kekhawatiran yang Mendasari

Indonesia menunjukkan optimisme dan pemahaman AI yang sangat tinggi. Survei Ipsos AI Monitor 2024 4 menemukan bahwa 86% responden Indonesia merasa memahami AI dengan baik, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 67% responden di Singapura atau 44% di Jepang. Selain itu, 80% responden mengklaim memahami produk dan layanan AI, dibandingkan dengan 61% di Malaysia atau 41% di Jerman.4 Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam antusiasme terhadap AI (41% “sangat antusias” menurut Statista 5) dan dianggap sebagai negara “paling optimis” menurut Netray.6

Tingginya “pemahaman yang dirasakan” (86%) tentang AI di Indonesia 4 sangat kontras dengan temuan selanjutnya mengenai “pemahaman yang dangkal dan kesalahpahaman.” Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan kepercayaan-kompetensi yang signifikan, di mana sebagian besar populasi

percaya bahwa mereka memahami AI dengan baik, namun pemahaman sebenarnya mereka tentang kompleksitas, batasan, dan implikasi etisnya masih dangkal. Kepercayaan diri yang berlebihan ini dapat membuat publik lebih rentan terhadap disinformasi dan kurang kritis terhadap konten yang dihasilkan AI, yang berpotensi memperburuk masalah seperti deepfake dan hoaks. Kondisi ini juga menciptakan lahan subur bagi “FOMO Pemerintah” dengan membentuk publik yang reseptif terhadap proyek-proyek AI yang ambisius, namun berpotensi tidak realistis. Ini menunjukkan bahwa pemahaman yang dilaporkan sendiri kemungkinan besar merupakan pemahaman yang dirasakan daripada pemahaman yang mendalam dan bernuansa. Kesenjangan ini sangat penting. Ini berarti bahwa meskipun publik umumnya menerima dan optimis terhadap AI, pengetahuan mereka yang dangkal membuat mereka rentan terhadap salah tafsir, ketergantungan berlebihan, atau manipulasi. Hal ini juga menyiratkan bahwa upaya pendidikan perlu melampaui kesadaran dasar untuk mendorong pemikiran kritis tentang kemampuan dan batasan AI yang sebenarnya, daripada hanya mengasumsikan pemahaman yang tinggi.

Kepercayaan terhadap AI juga sangat tinggi di Indonesia: 66% responden percaya bahwa perusahaan yang menggunakan AI akan melindungi data pribadi mereka secara memadai 4, dan 68% percaya AI tidak akan mendiskriminasi atau menunjukkan bias terhadap kelompok mana pun.4 Namun, perspektif yang lebih bernuansa muncul karena 65% responden masih menyatakan kepercayaan yang lebih besar pada manusia untuk menghindari diskriminasi.4

Kepercayaan yang tinggi terhadap AI dalam hal non-diskriminasi (68%) dan pada saat yang sama sedikit lebih tinggi kepercayaan pada manusia (65%) untuk non-diskriminasi 4 mengungkapkan sentimen publik yang kompleks, bahkan mungkin kontradiktif. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat Indonesia optimis tentang keadilan teoretis AI, mereka masih mempertahankan kepercayaan fundamental yang berpusat pada manusia, terutama mengenai masalah sensitif seperti bias. “Kepercayaan manusia yang tersisa” ini menunjukkan area potensial untuk pendidikan publik tentang bagaimana bias AI dapat muncul secara tidak sengaja (misalnya, dari data pelatihan yang bias, desain algoritma, atau masukan manusia) dan pentingnya pengawasan manusia yang kritis, terlepas dari optimisme umum. Publik mungkin belum sepenuhnya memahami bahwa AI, sebagai cerminan dari penciptanya dan data yang dilatihnya, memang dapat melanggengkan dan bahkan memperkuat bias sosial yang ada, membuat kepercayaan mereka pada imparsialitas AI agak naif. Ini bukan kontradiksi langsung melainkan cerminan dari pemahaman etika AI yang sedang berkembang, namun masih dangkal. Masyarakat optimis tentang potensi AI untuk keadilan, tetapi kepercayaan bawaan mereka pada manusia bertindak sebagai perlindungan halus. Hal ini menunjukkan bahwa publik mungkin tidak sepenuhnya memahami

mekanisme di mana bias AI dapat bermanifestasi. Kepercayaan mereka pada imparsialitas AI mungkin didasarkan pada pandangan idealis daripada pemahaman teknis, membuat mereka berpotensi rentan terhadap sistem AI yang bias sementara mereka percaya bahwa sistem tersebut adil.

Ekspektasi terhadap dampak AI di masa depan juga sangat tinggi di berbagai domain. Sebanyak 78% responden percaya AI akan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas, 64% melihat manfaat dalam hiburan (konten televisi/video, film, musik, buku), 59% dalam pekerjaan, 54% dalam ekonomi, dan yang mengejutkan, 48% berharap AI akan mengurangi jumlah berita hoaks di internet.4

Ekspektasi bahwa AI akan mengurangi “jumlah berita hoaks di Internet” (48%) 4 sangat mencolok dan paradoks ketika disandingkan dengan prevalensi

deepfake dan disinformasi yang dihasilkan AI yang telah didokumentasikan.2 Hal ini menyoroti ketidaksesuaian kritis dalam persepsi publik: publik berharap AI akan menyelesaikan masalah yang justru semakin banyak diciptakan oleh AI. Ini menunjukkan pemahaman yang dangkal tentang sifat ganda AI sebagai alat yang ampuh untuk verifikasi informasi sekaligus mesin canggih untuk menghasilkan konten yang menipu. Paradoks ini mengungkap kerentanan signifikan terhadap propaganda yang didorong AI dan menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan literasi AI kritis yang komprehensif yang membahas kemampuan teknologi yang bermanfaat dan berbahaya.

Tabel 1: Persepsi Publik Nasional tentang AI di Indonesia (Ipsos AI Monitor 2024)

 

Aspek PersepsiPersentase Responden IndonesiaPerbandingan dengan Negara Lain
Pemahaman AI (dirasakan)86%Lebih tinggi dari Singapura (67%), Jepang (44%) 4
Pengetahuan Produk/Layanan AI80%Lebih tinggi dari Malaysia (61%), Jerman (41%) 4
Antusiasme terhadap AI41% (“sangat antusias”)Peringkat ke-4 global (Statista), “paling optimis” (Netray) 5
Kepercayaan Perusahaan AI akan jaga data pribadi66%Sedikit di bawah Thailand (68%) 4
Kepercayaan AI tidak akan diskriminasi/bias68%Jauh lebih tinggi dari Jepang (38%) 4
Kepercayaan manusia tidak akan diskriminasi65%Sedikit di bawah kepercayaan AI 4
AI telah mengubah hidup sehari-hari (3-5 tahun terakhir)71%– 4
AI akan mengubah hidup sehari-hari (3-5 tahun ke depan)80%– 4
AI akan mengubah cara kerja (5 tahun ke depan)44%Jauh lebih tinggi dari Jerman (13%) 4
Manfaat AI yang Diharapkan (3-5 tahun mendatang):
Pekerjaan59%– 4
Jumlah berita hoaks di Internet48%– 4
Lowongan Pekerjaan45%– 4
Ekonomi54%– 4
Ragam pilihan hiburan64%– 4
Waktu penyelesaian tugas78%– 4
Kesehatan51%– 4

 

Tabel ini secara langsung menjawab pertanyaan mengenai “persepsi masyarakat nasional terkait AI”. Ini memberikan data kuantitatif yang memungkinkan perbandingan langsung dengan negara lain, menyoroti posisi unik Indonesia yang memiliki optimisme dan pemahaman yang dirasakan tinggi. Tabel ini juga dengan jelas menjabarkan area spesifik di mana publik mengharapkan AI membawa manfaat, yang dapat menginformasikan prioritas kebijakan dan pengembangan. Penyertaan “pemahaman yang dirasakan” versus “pengetahuan produk/layanan” juga secara implisit menyiapkan diskusi tentang “pemahaman yang dangkal.” Tabel ini sangat berharga bagi pembuat kebijakan untuk memahami pola pikir masyarakat Indonesia saat ini mengenai AI.

3.2. Konteks Lokal: Lampung dan Metro

Materi penelitian yang disediakan menawarkan informasi langsung yang sangat terbatas mengenai persepsi AI secara khusus di Lampung atau Metro. Cuplikan yang berkaitan dengan wilayah ini sebagian besar mencakup berita lokal dan tren media sosial yang tidak terkait dengan AI, seperti insiden penumpang bus yang tertinggal karena Pop Mie 8, video viral dugaan penganiayaan anak 10, penemuan mayat di sungai 11, protes viral tentang APBD 13, dan aksi romantis.14 Ada juga penyebutan pengembangan infrastruktur Kota Metro dan penurunan kualitas udara 15, serta kontroversi dakwah toleransi di Metro TV.16 Meskipun ada diskusi tentang AI dalam jurnalisme 17, ini tidak spesifik untuk persepsi publik lokal di Lampung/Metro.

Fokus yang sangat besar dari media lokal (misalnya, akun TikTok seperti Berita Lampung, Trending Lampung) pada insiden sehari-hari, kejahatan, drama sosial, dan masalah politik lokal 10 menunjukkan bahwa AI bukanlah topik yang menonjol atau sering dibahas dalam wacana publik lokal atau liputan media di Lampung/Metro. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun survei nasional menunjukkan pemahaman dan optimisme yang tinggi, AI mungkin sebagian besar tetap menjadi konsep abstrak atau teknologi di balik layar bagi banyak orang di tingkat lokal, belum terintegrasi ke dalam percakapan sehari-hari atau lanskap berita mereka. Ini memperkuat gagasan bahwa “pemahaman dangkal” yang diamati secara nasional mungkin bahkan lebih jelas di tingkat lokal, di mana AI bukanlah subjek diskusi publik reguler atau dampak pribadi langsung di luar layanan digital dasar. Ketiadaan wacana terkait AI dalam media lokal merupakan temuan yang penting. Ini sangat menunjukkan bahwa AI bukanlah topik yang menonjol atau sering dibahas di tingkat lokal, tidak seperti diskusi nasional yang lebih luas. Hal ini menyiratkan bahwa “pemahaman yang dirasakan” yang tinggi dari survei nasional 4 mungkin tidak diterjemahkan ke dalam keterlibatan yang mendalam dan terlokalisasi dengan AI. Bagi banyak orang di tingkat lokal, AI tetap menjadi konsep yang jauh dan abstrak, memperkuat gagasan pemahaman yang dangkal di mana AI belum menjadi subjek percakapan sehari-hari atau siklus berita lokal. Hal ini menyoroti potensi ketidaksesuaian antara ambisi kebijakan AI nasional dan kesadaran serta integrasi publik lokal.

4. Penggunaan Umum dan Integrasi AI dalam Kehidupan Sehari-hari

AI semakin terintegrasi secara mulus ke dalam teknologi dan layanan digital yang ada, membuat kehadirannya di mana-mana meskipun pengguna tidak secara eksplisit mengenalinya sebagai “AI.” Integrasi “tak terlihat” ini seringkali mendorong adopsi yang meluas.

Menurut survei tahun 2024, penggunaan AI yang paling umum oleh masyarakat Indonesia meliputi:

  • Mencari informasi (81,2%)
  • Belanja online (46,7%)
  • Mengedit foto/video (44,8%)
  • Navigasi perjalanan (34,9%)
  • Menerjemahkan bahasa (34,6%)
  • Mendengarkan musik/menonton film (25,7%)
  • Mengelola email (19,2%)
  • Mengatur jadwal/pengingat (19,1%)
  • Mengakses layanan pelanggan (14,7%)
  • Mengelola kesehatan (12,8%).20

Dominasi penggunaan “mencari informasi” (81,2%) dan “belanja online” (46,7%) sebagai penggunaan AI yang paling umum 20 menunjukkan bahwa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, AI terutama dialami sebagai

peningkatan terhadap aktivitas digital yang sudah ada daripada sebagai teknologi yang berdiri sendiri dan transformatif. Hal ini menunjukkan adopsi yang didorong oleh utilitas dan kepraktisan, di mana AI meningkatkan efisiensi dan kenyamanan dalam tugas sehari-hari, tetapi mungkin belum dalam domain yang lebih kompleks atau kritis bagi masyarakat umum. Integrasi pasif di latar belakang ini juga berkontribusi pada “pemahaman yang dangkal” tentang AI, karena pengguna mendapatkan manfaat dari kemampuannya tanpa harus memahami mekanisme AI yang mendasarinya atau implikasi yang lebih luas. AI sebagian besar diadopsi sebagai “asisten tak terlihat” yang merampingkan dan meningkatkan aktivitas digital yang ada. Pengguna berinteraksi dengan fitur bertenaga AI tanpa harus menyadari bahwa AI sedang bekerja. Adopsi yang didorong oleh utilitas dan berlatar belakang ini berarti bahwa meskipun AI banyak digunakan, AI tidak dipahami secara mendalam sebagai teknologi yang berbeda. Hal ini berkontribusi pada “pemahaman yang dangkal” karena manfaatnya dialami tanpa perlu pemahaman teknis, yang berpotensi membatasi keterlibatan kritis atau kesadaran akan dampak sosial AI yang lebih luas.

Di luar penggunaan konsumen individu, AI juga diterapkan di berbagai sektor sebagai bagian dari Strategi Nasional AI Indonesia, termasuk perawatan kesehatan, reformasi birokrasi, penelitian dan pendidikan, ketahanan pangan, dan kota pintar.1 Dalam layanan keuangan, AI semakin tertanam untuk meningkatkan deteksi penipuan, menyederhanakan penilaian risiko, dan menawarkan pengalaman pelanggan yang dipersonalisasi.21 Di antara platform AI tertentu, ChatGPT dilaporkan sebagai yang paling populer, dipilih oleh 71% responden Indonesia.22

Tampaknya ada ketidaksesuaian antara ambisi pemerintah untuk mengembangkan GPT nasional 1 dan penggunaan praktis utama AI oleh publik untuk tugas-tugas dasar seperti pencarian informasi dan belanja online 20, di samping popularitas platform yang sudah ada seperti ChatGPT.22 Hal ini menyoroti potensi ketidaksesuaian dalam prioritas pengembangan AI. Sementara pemerintah mengincar AI generatif berprofil tinggi, publik tampaknya paling diuntungkan dari solusi AI terapan yang merampingkan kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan perlunya kebijakan untuk menyeimbangkan proyek-proyek mutakhir yang ambisius dengan aplikasi praktis yang berdampak yang mengatasi kebutuhan masyarakat langsung dan membangun perilaku pengguna yang sudah ada. Ini menunjukkan potensi ketidaksesuaian antara inisiatif pengembangan AI dari atas ke bawah (yang didorong oleh keinginan untuk bersaing secara global dalam AI generatif canggih) dan pola adopsi publik dari bawah ke atas (yang didorong oleh utilitas praktis dan kenyamanan dalam kebiasaan digital yang ada). Fokus pemerintah pada GPT nasional mungkin merupakan salah alokasi sumber daya jika kebutuhan mendesak publik lebih baik dilayani dengan memperkuat dan memperluas aplikasi AI di bidang-bidang seperti perawatan kesehatan, pertanian, dan dukungan usaha kecil, yang sudah menjadi bagian dari Strategi Nasional AI.1 Pendekatan pengembangan AI yang lebih mendasar dan berbasis kebutuhan, yang berfokus pada aplikasi praktis yang secara langsung menguntungkan kehidupan sehari-hari warga, mungkin akan menghasilkan dampak sosial yang lebih besar daripada pengejaran tunggal AI generatif “juara nasional.”

Tabel 2: Aplikasi AI Umum di Kalangan Masyarakat Indonesia (2024)

 

Jenis Layanan/Aktivitas AIProporsi Responden yang Menggunakan 20
Mencari informasi81,2%
Belanja online46,7%
Edit foto/video44,8%
Navigasi perjalanan34,9%
Menerjemahkan bahasa34,6%
Dengar musik/nonton film25,7%
Mengelola e-mail19,2%
Mengatur jadwal/pengingat19,1%
Akses layanan pelanggan14,7%
Mengelola kesehatan12,8%
Lain-lainnya0,6%

Tabel ini secara langsung menjawab pertanyaan mengenai “penggunaan AI yang umum”. Ini memberikan daftar yang jelas dan berperingkat tentang bagaimana AI digunakan oleh masyarakat umum, menawarkan pemahaman tentang tingkat integrasi AI saat ini dalam kehidupan sehari-hari. Data ini sangat penting untuk memahami dampak praktis AI dan mengidentifikasi area untuk pengembangan lebih lanjut atau pendidikan publik, terutama mengenai di mana AI sudah membuat perbedaan yang nyata.

5. Mengatasi Pemahaman Dangkal dan Kesalahpahaman tentang AI

Pemahaman yang dangkal dan kesalahpahaman tentang AI merupakan hambatan signifikan bagi adopsi yang bertanggung jawab dan pengembangan yang etis. Penting untuk mengidentifikasi dan mengklarifikasi mitos-mitos ini.

5.1. Mitos dan Kesalahpahaman yang Umum

 

Kesalahpahaman umum tentang AI yang lazim di masyarakat Indonesia meliputi:

  • AI dapat beroperasi tanpa bantuan manusia, meskipun masukan dan pemrograman manusia sangat penting.23
  • AI telah mencapai puncak inovasinya, padahal para ahli menyatakan bahwa AI masih dalam tahap awal.23
  • AI secara inheren berbahaya, seringkali dipicu oleh penggambaran fiksi ilmiah yang dramatis, padahal bahayanya berasal dari penyalahgunaan manusia daripada otonomi bawaan.23

Keyakinan bahwa “AI dapat beroperasi tanpa bantuan manusia” 23 adalah kesalahpahaman kritis yang mendasari banyak kesalahpahaman lainnya. Kekeliruan ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang ketergantungan fundamental AI pada masukan manusia, pemrograman, dan pengawasan berkelanjutan. Mitos ini dapat menyebabkan ketakutan yang berlebihan (misalnya, AI mengambil alih pekerjaan atau bahkan masyarakat, seperti yang terlihat dalam narasi fiksi ilmiah) atau ekspektasi yang tidak realistis (misalnya, AI menyelesaikan semua masalah kompleks secara otonom tanpa campur tangan manusia). Kedua hasil ini menghambat pengembangan dan adopsi AI yang bertanggung jawab, karena mengaburkan perlunya kolaborasi manusia-AI dan desain etis. Hal ini juga membuat publik kurang mungkin untuk secara kritis mengevaluasi keluaran AI, menganggapnya murni objektif atau dihasilkan sendiri. Kesalahpahaman ini bersifat mendasar dan dapat menyebabkan dua ekstrem berbahaya: ketakutan irasional (AI sebagai entitas yang tidak terkendali dan berbahaya, seperti dalam fiksi ilmiah 23) atau ketergantungan berlebihan yang naif (mengharapkan AI untuk menyelesaikan masalah kompleks tanpa panduan manusia atau pertimbangan etis). Hal ini secara fundamental merusak pemahaman AI sebagai

alat yang diciptakan dan dikelola oleh manusia. Kurangnya pemahaman tentang peran manusia dalam pengembangan dan operasi AI ini membuat publik kurang siap untuk secara kritis menilai batasan, bias, atau potensi penyalahgunaan AI, sehingga berkontribusi pada masalah “pemahaman dangkal.”

Studi menunjukkan bahwa penggunaan AI yang terang-terangan dalam percakapan dapat menimbulkan kesan “anti-sosial,” yang berpotensi merusak manfaat dari peningkatan kecepatan komunikasi dan persepsi interpersonal.24 Konotasi “anti-sosial” dari AI dalam percakapan 24 menyoroti preferensi masyarakat untuk interaksi manusia yang otentik, bahkan ketika AI bertujuan untuk meningkatkan efisiensi komunikasi. Hal ini menunjukkan adanya hambatan budaya terhadap adopsi AI dalam konteks yang sangat sosial atau pribadi, menyiratkan bahwa aplikasi AI dalam komunikasi perlu dirancang dengan kehalusan, transparansi, dan pemahaman yang jelas tentang nuansa sosial untuk menghindari pengasingan pengguna. Ini juga menunjukkan bahwa publik menghargai koneksi manusia dan keaslian emosional di atas efisiensi murni dalam interaksi sosial tertentu, menggarisbawahi aspek fundamental interaksi manusia-AI yang tidak dapat diabaikan dalam pengembangan. Persepsi “anti-sosial” ini menunjukkan kebutuhan mendalam manusia akan koneksi sosial yang tulus dan tidak dimediasi, terutama dalam komunikasi pribadi atau sensitif. Meskipun AI dapat menawarkan efisiensi, kehadirannya yang terang-terangan dapat mengganggu keaslian dan hubungan emosional yang sangat dihargai dalam interaksi manusia. Hal ini menyiratkan bahwa agar AI benar-benar terintegrasi ke dalam komunikasi, AI perlu mencapai peniruan manusia yang hampir sempurna atau diposisikan dengan jelas sebagai alat bantu yang halus daripada pengganti interaksi manusia. Ini juga menunjukkan bahwa pemahaman publik tentang kemampuan “sosial” AI masih dasar, mengaitkannya lebih dengan interaksi robotik atau impersonal, yang memperkuat pemahaman dangkal.

5.2. Dampak Disinformasi dan Deepfake

Video deepfake yang menampilkan tokoh politik, seperti mendiang Presiden Soeharto yang mendukung partai politik 7 dan Presiden Jokowi yang berbicara bahasa Mandarin 2, telah menjadi viral di platform media sosial seperti Instagram dan X. Insiden-insiden ini memicu perdebatan luas di kalangan publik dan para ahli mengenai implikasi etika dan hukum penggunaan teknologi AI dalam kampanye politik. Kominfo telah mengakui peredaran 3.235 hoaks terkait pemilu di media sosial sejak Juli 2023, dengan 1.971 di antaranya telah dihapus.2

Peredaran luas deepfake yang dihasilkan AI dalam konteks politik 2 dan tingginya volume hoaks terkait pemilu 2 secara langsung bertentangan dengan ekspektasi optimis publik bahwa AI akan

mengurangi hoaks.4 Hal ini menciptakan paradoks berbahaya di mana teknologi yang diharapkan menjadi solusi justru secara aktif berkontribusi pada masalah disinformasi. Hal ini menyoroti kerentanan kritis dalam pemahaman publik dan kebutuhan mendesak akan program literasi AI yang kuat yang berfokus pada pemahaman media, evaluasi kritis terhadap konten yang dihasilkan AI, dan pemahaman mekanisme manipulasi yang didorong AI. Ketidakmampuan publik untuk membedakan konten otentik dari konten yang dihasilkan AI membuat mereka sangat rentan terhadap manipulasi, yang menimbulkan ancaman signifikan terhadap wacana publik yang terinformasi dan berpotensi terhadap proses demokrasi. Ini adalah kontradiksi yang mendalam dan berbahaya. Keyakinan optimis publik bahwa AI akan memerangi hoaks secara langsung dirusak oleh kenyataan bahwa AI adalah alat yang ampuh untuk

menghasilkan hoaks dan deepfake yang canggih, terutama di area yang sensitif secara politik. Hal ini mengungkapkan defisit parah dalam literasi AI kritis, di mana publik mungkin tidak memiliki keterampilan untuk membedakan disinformasi yang dihasilkan AI dari konten otentik. Kesenjangan ini membuat mereka sangat rentan terhadap manipulasi, mengancam integritas informasi dan proses demokrasi. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan literasi digital yang komprehensif dan pelatihan keterampilan berpikir kritis, yang secara khusus disesuaikan dengan sifat konten yang dihasilkan AI yang terus berkembang.

Tabel 3: Kesalahpahaman Umum dan Realitas AI di Indonesia

 

Kesalahpahaman UmumRealitas 23
AI dapat beroperasi tanpa bantuan manusia.Masukan, pemrograman, dan pengawasan manusia sangat penting.
AI sudah mencapai puncak inovasinya.AI masih dalam tahap awal; kemampuan manusia dalam pembelajaran kompleks sebagian besar belum tersentuh.
AI secara inheren berbahaya.Bahaya berasal dari penyalahgunaan manusia, bias dalam data, atau desain yang cacat, bukan otonomi bawaan AI.
AI akan mengurangi hoaks.AI juga merupakan alat yang ampuh untuk menghasilkan hoaks dan deepfake.
AI murni objektif/tidak bias.AI dapat mencerminkan dan memperkuat bias manusia dan data, membutuhkan desain dan pemantauan yang cermat.

Tabel ini secara langsung menjawab pertanyaan mengenai “kedangkalan pemahaman masyarakat tentang AI”. Dengan menyajikan mitos-mitos umum secara sistematis bersama dengan realitas faktualnya, tabel ini menyediakan kerangka kerja yang jelas dan dapat ditindaklanjuti untuk memahami pengetahuan publik yang dangkal. Ini sangat berharga bagi pembuat kebijakan dan pendidik dalam mengembangkan kampanye pendidikan yang ditargetkan untuk mengoreksi kesalahpahaman ini dan mendorong perspektif yang lebih realistis, kritis, dan bernuansa tentang AI.

 

6. Insiden Viral Media Sosial Terkait AI

 

Materi penelitian yang disediakan tidak secara eksplisit berisi contoh “kejadian lucu yang viral” yang secara langsung disebabkan oleh AI. Sebaliknya, data menunjukkan insiden di mana konten terkait AI atau ketidaksempurnaan AI telah menjadi viral, seringkali memicu kontroversi, kritik, atau perdebatan, yang secara implisit dapat menyoroti “kecanggungan” atau “kegagalan” AI daripada humor yang disengaja. Bagian ini akan berfokus pada fenomena viral terkait AI yang menonjol di Indonesia.

  • Deepfake Politik: Video deepfake viral mendiang Presiden Soeharto yang mendukung partai politik 7 dan Presiden Joko Widodo yang berbicara bahasa Mandarin 2 mendapatkan daya tarik yang signifikan di platform media sosial seperti Instagram dan X. Insiden-insiden ini memicu perdebatan luas di kalangan publik dan ahli mengenai implikasi etika dan hukum penggunaan teknologi tersebut untuk kampanye politik, khususnya mengenai manipulasi dan disinformasi.
  • Kontroversi Iklan yang Dihasilkan AI: Sebuah iklan video yang dihasilkan AI yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia, mempromosikan program makan bergizi gratis, menjadi viral dan menuai kritik yang cukup besar.26 Kontroversi tersebut berasal dari ketergantungan yang kuat pada konten yang dihasilkan AI daripada animasi tradisional yang dibuat oleh seniman profesional. Netizen mengkritik video tersebut karena cacat “tidak realistis,” seperti gerakan jari karakter yang kaku dan tidak alami serta kotak makanan yang tertutup longgar.26 Kurangnya transparansi mengenai apakah AI digunakan untuk memotong biaya atau mengapa seniman profesional tidak dilibatkan semakin memicu perdebatan.26
  • AI dalam Konten Media (Transparansi): Sebuah media berita Malaysia, Sinar Harian, secara eksplisit menyatakan bahwa “Podcast audio ini dijana sepenuhnya oleh AI” (Audio podcast sepenuhnya dihasilkan oleh AI).27 Meskipun bukan “insiden lucu,” ini menyoroti penggunaan AI yang semakin meningkat, dan terkadang transparan, dalam pembuatan konten media, yang dapat dipersepsikan secara berbeda oleh audiens, berpotensi mengarah pada diskusi tentang keaslian atau kreativitas manusia.

Reaksi negatif publik terhadap iklan pemerintah yang dihasilkan AI 26 karena cacat “tidak realistis” (misalnya, jari kaku, kotak makanan tidak realistis) dan perdebatan sengit seputar

deepfake politik 2 menunjukkan kemampuan masyarakat yang semakin meningkat dalam membedakan konten yang dihasilkan AI. Meskipun memiliki “pemahaman dangkal” tentang teknis AI, publik dapat mendeteksi ketidaksempurnaan atau efek “lembah aneh” dalam visual yang dihasilkan AI. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI bertujuan untuk realisme, cacatnya saat ini dapat dengan mudah menjadi sumber kritik publik, bukan humor, menggarisbawahi permintaan akan fidelitas dan keaslian yang lebih tinggi. Sifat viral dari “kegagalan” ini juga berfungsi sebagai mekanisme pendidikan publik informal, menyoroti batasan AI saat ini dan pentingnya konsumsi media yang kritis. Bahkan dengan pemahaman teknis AI yang dangkal, publik mengembangkan literasi visual dan kritis untuk mendeteksi keluaran AI yang “tidak alami” atau “cacat”. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI berusaha untuk realisme, ketidaksempurnaannya saat ini terlihat jelas dan menjadi titik diskusi dan kritik publik. Penyebaran viral dari “kegagalan” ini bertindak sebagai proses pendidikan informal, mengekspos batasan AI kepada audiens yang lebih luas dan mendorong permintaan akan keaslian atau transparansi yang lebih besar dalam konten yang dihasilkan AI, terutama ketika digunakan oleh entitas resmi.

Kontroversi seputar iklan pemerintah yang dihasilkan AI 26 melampaui cacat teknis semata untuk mencakup kekhawatiran etika yang lebih dalam tentang penggantian pekerjaan dan dukungan pemerintah terhadap seniman lokal. Kritik netizen, “Bahkan kampanye produk tingkat kementerian menggunakan AI, jangan berharap industri animasi/kreatif berkembang. Pemerintah/kementerian bahkan tidak mendukungnya,” 26 menunjukkan kecemasan sosial yang lebih luas tentang potensi AI yang mengganggu tenaga kerja manusia dan ekonomi kreatif. Hal ini mengubah insiden “AI cacat” yang tampaknya sederhana menjadi perdebatan sosio-ekonomi, menyoroti kesadaran publik yang baru muncul tentang dampak AI terhadap mata pencaharian dan tuntutan mereka akan akuntabilitas dari institusi mengenai adopsi AI. Reaksi balik terhadap iklan pemerintah yang dihasilkan AI mengungkapkan kecemasan sosial yang lebih dalam tentang dampak AI terhadap pekerjaan manusia, khususnya di sektor kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun survei nasional mungkin menunjukkan optimisme umum tentang dampak AI pada penciptaan lapangan kerja

secara keseluruhan 4, ada kekhawatiran spesifik dan nyata tentang penggantian pekerjaan di industri di mana AI dapat secara langsung mengotomatiskan atau menggantikan tenaga kerja kreatif manusia. Insiden ini berfungsi sebagai manifestasi dunia nyata dari ketakutan abstrak tentang gangguan ekonomi AI, mendorong tuntutan publik untuk penerapan AI yang etis dan dukungan pemerintah untuk pekerja manusia. Hal ini menyoroti kesadaran publik yang berkembang tentang potensi AI yang mengganggu mata pencarian, di luar hanya kemampuan teknisnya.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

 

7.1. Poin-Poin Utama

 

  • Persepsi Paradoks: Lanskap AI Indonesia ditandai oleh paradoks di mana optimisme publik yang tinggi dan pemahaman yang dirasakan kuat tentang AI hidup berdampingan dengan kesalahpahaman signifikan dan pemahaman dangkal tentang kompleksitas dan batasannya, yang mengarah pada kesenjangan kepercayaan-kompetensi yang kritis.
  • Strategi yang Didorong “FOMO”: Inisiatif pemerintah, meskipun ambisius dan bertujuan untuk daya saing global, berisiko didorong oleh “FOMO Pemerintah” daripada strategi yang didasarkan pada kebutuhan. Hal ini dapat menyebabkan salah alokasi sumber daya untuk proyek-proyek AI generatif berprofil tinggi daripada aplikasi praktis yang berdampak yang mengatasi kebutuhan masyarakat langsung dan memperkuat infrastruktur dasar.
  • Kerentanan terhadap Disinformasi: Prevalensi disinformasi yang dihasilkan AI, khususnya deepfake di area sensitif seperti politik, menyoroti kerentanan kritis dalam literasi publik dan kerangka regulasi yang ada. Ekspektasi publik bahwa AI akan mengurangi hoaks secara langsung bertentangan dengan penggunaannya saat ini dalam menghasilkannya, menciptakan lingkungan informasi yang berbahaya.
  • Adopsi yang Didorong Utilitas: Penggunaan umum AI terutama sebagai alat peningkat efisiensi yang terintegrasi ke dalam aktivitas digital sehari-hari (misalnya, pencarian, belanja online). Hal ini menunjukkan adopsi pasif yang didorong oleh utilitas daripada keterlibatan mendalam atau pemahaman kritis tentang teknologi itu sendiri.
  • Kesenjangan Nasional-Lokal: Ada ketiadaan yang mencolok dalam wacana AI langsung di tingkat lokal (misalnya, Lampung dan Metro), menunjukkan kesenjangan nasional-lokal yang signifikan dalam kesadaran dan diskusi AI, di mana AI sebagian besar tetap menjadi konsep abstrak bagi banyak komunitas lokal.

 

7.2. Rekomendasi Strategis

 

Berdasarkan analisis komprehensif mengenai lanskap AI di Indonesia, berikut adalah rekomendasi strategis untuk mengatasi tantangan dan memaksimalkan potensi AI secara bertanggung jawab:

  • Mendorong Literasi AI Kritis:
  • Mengembangkan dan mengimplementasikan kampanye pendidikan publik yang ditargetkan yang secara langsung mengatasi kesalahpahaman umum tentang AI (misalnya, otonomi AI, puncaknya, bahaya bawaan, dan perannya dalam disinformasi).23 Kampanye ini harus menggunakan contoh yang relevan dan bahasa yang jelas.
  • Menekankan peran penting masukan, pemrograman, dan pengawasan manusia dalam pengembangan dan operasi AI untuk membangun ekspektasi yang lebih realistis dan menumbuhkan kepercayaan berdasarkan pemahaman yang terinformasi, bukan optimisme buta.23
  • Mempromosikan pemahaman media yang lebih maju dan keterampilan berpikir kritis di kalangan masyarakat untuk memungkinkan mereka mengidentifikasi konten yang dihasilkan AI, terutama deepfake, dan untuk secara kritis mengevaluasi informasi yang mereka konsumsi secara daring.2
  • Memperkuat Kerangka Etika dan Regulasi:
  • Mempercepat pengembangan dan pemberlakuan undang-undang spesifik untuk deepfake dan manipulasi konten yang didorong AI untuk menutup celah hukum yang ada dan menyediakan jalur yang jelas untuk akuntabilitas dan penuntutan.2
  • Mewajibkan persyaratan pengungkapan yang transparan untuk konten yang dihasilkan AI, terutama dalam komunikasi publik, periklanan, dan kampanye politik, untuk memastikan keaslian dan mencegah penipuan.26
  • Memprioritaskan dan menegakkan regulasi privasi dan keamanan data yang kuat untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap aplikasi AI, terutama mengingat kekhawatiran publik tentang perlindungan data.3
  • Menyesuaikan Strategi Pengembangan AI:
  • Mengalihkan fokus dari “FOMO Pemerintah” (misalnya, pengejaran GPT nasional) menuju solusi AI terapan yang praktis dan secara langsung mengatasi kebutuhan sosial yang mendesak di sektor-sektor utama seperti pertanian, perawatan kesehatan, dan dukungan untuk usaha kecil, seperti yang awalnya digariskan dalam Strategi Nasional AI.1
  • Meningkatkan investasi secara signifikan dalam infrastruktur AI dasar, termasuk konektivitas internet berkecepatan tinggi yang andal, pusat data yang memadai, dan perangkat keras yang kuat, untuk memungkinkan pengembangan model AI berkualitas tinggi yang relevan secara lokal.3 Ini juga mencakup peningkatan akses ke data berkualitas tinggi dan terstruktur.
  • Menjembatani Kesenjangan Nasional-Lokal:
  • Memulai program kesadaran dan pendidikan AI yang terlokalisasi yang menghubungkan konsep AI abstrak dengan manfaat lokal yang nyata dan mengatasi kekhawatiran komunitas tertentu. Program-program ini harus melampaui berita utama nasional untuk menunjukkan relevansi AI dengan kehidupan sehari-hari di tingkat lokal.15
  • Mendorong dan mendukung media lokal untuk mengeksplorasi dan melaporkan dampak dan relevansi AI terhadap komunitas spesifik mereka, menumbuhkan wacana dan pemahaman yang lebih terlokalisasi tentang teknologi tersebut.

Karya yang dikutip

  1. Indonesia’s AI FOMO threatens real progress – East Asia Forum, diakses Agustus 5, 2025, https://eastasiaforum.org/2025/06/25/indonesias-ai-fomo-threatens-real-progress/
  2. Indonesian government encourages ethical AI to tackle deepfakes, diakses Agustus 5, 2025, https://govinsider.asia/intl-en/article/indonesian-government-encourages-ethical-ai-to-tackle-deepfakes
  3. Tantangan dalam Pengembangan Teknologi Artificial Intelligence di Indonesia, diakses Agustus 5, 2025, https://binus.ac.id/malang/2022/08/tantangan-dalam-pengembangan-teknologi-artificial-intelligence-di-indonesia/
  4. Ipsos AI Monitor 2024 – Indonesia | Ipsos, diakses Agustus 5, 2025, https://www.ipsos.com/en-id/ipsos-ai-monitor-indonesia-2024
  5. Riset: Indonesia Negara Ke-4 dengan Antusiasme Tertinggi terhadap Teknologi AI, diakses Agustus 5, 2025, https://pilaradio.com/riset-indonesia-negara-ke-4-dengan-antusiasme-tertinggi-terhadap-teknologi-ai/
  6. Orang Indonesia Paling Optimis dengan Teknologi AI Menurut Laporan Survei Internasional, diakses Agustus 5, 2025, https://analysis.netray.id/indonesia-paling-optimis-dengan-teknologi-ai/
  7. Fake Suharto video fuels debate on AI use in Indonesian election …, diakses Agustus 5, 2025, https://www.benarnews.org/english/news/indonesian/suharto-deepfake-used-in-election-campaign-01122024135217.html
  8. Berita Lampung (@beritalampung.id) | TikTok, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@beritalampung.id
  9. Pedesnya Beneran! Hati-Hati Sob dengan Pop Mie EVOS | TikTok, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@evosesports/video/7429295594444803334
  10. Sat Reskrim Polres Lampung Tengah, Dalami Dugaan …, diakses Agustus 5, 2025, https://tribratanews.lampung.polri.go.id/detail-post/sat-reskrim-polres-lampung-tengah-dalami-dugaan-penganiayaan-terhadap-anak-dibawah-umur-yang-viral-di-media-sosial
  11. Mayat Ditemukan Terapung di Sungai Natar Lampung Selatan …, diakses Agustus 5, 2025, https://regional.kompas.com/read/2025/07/31/152527678/mayat-ditemukan-terapung-di-sungai-natar-lampung-selatan-polisi-turun
  12. Misteri Mayat Berjaket Merah Terapung di Sungai Natar, Posisi Tangan Terlipat Jadi Sorotan – Suaralampung.id, diakses Agustus 5, 2025, https://lampung.suara.com/read/2025/07/31/150739/misteri-mayat-berjaket-merah-terapung-di-sungai-natar-posisi-tangan-terlipat-jadi-sorotan
  13. Kasus Viral di Lampung: Celurut di TKP Pugung | TikTok, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@celurutkantor/video/7513577838595919122
  14. Aksi Romantis Ulang Tahun di Lampung | TikTok, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@trendinglampuung/video/7500028904640417032
  15. Study on the Potential of Historical Mahogany Trees in Improving Urban Air Quality, diakses Agustus 5, 2025, https://www.researchgate.net/publication/363037108_Study_on_the_Potential_of_Historical_Mahogany_Trees_in_Improving_Urban_Air_Quality
  16. Analisis Konten Kontroversi Dawah Habib Husein Ja’far di Program Acara Talkshow Metro TV | Ath-Thariq: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, diakses Agustus 5, 2025, https://e-journal.metrouniv.ac.id/ath_thariq/article/view/7682
  17. Persepsi Jurnalis Tentang Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Dalam Pembuatan Berita: Studi Kasus Jurnalis Lokal Surakarta, diakses Agustus 5, 2025, https://jurnal.uns.ac.id/kom/article/download/95625/47816
  18. Kehadiran AI dalam Bidang Ilustrasi Desain Grafis akan Jadi Masa Depan atau Akhir Bagi Ilustrator? – Tabik Pun, diakses Agustus 5, 2025, https://tabikpun.com/kehadiran-ai-dalam-bidang-ilustrasi-desain-grafis-akan-jadi-masa-depan-atau-akhir-bagi-ilustrator/
  19. Vira❗️di media sosial, seorang wanita yang diduga berasal dari …, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@beritalampung.id/video/7510095188707101960
  20. Ini Jenis Layanan AI yang Banyak Digunakan Masyarakat Indonesia – Databoks, diakses Agustus 5, 2025, https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/679b51a605dce/ini-jenis-layanan-ai-yang-banyak-digunakan-masyarakat-indonesia
  21. The rise of AI in Indonesia is expanding financial inclusion – The World Economic Forum, diakses Agustus 5, 2025, https://www.weforum.org/stories/2025/02/rise-of-ai-in-indonesia/
  22. 5 Platform AI Terpopuler di Indonesia 2025 – GoodStats Data, diakses Agustus 5, 2025, https://data.goodstats.id/statistic/5-platform-ai-terpopuler-di-indonesia-2025-xyXKW
  23. Kesalahpahaman Umum Tentang Artificial Intelligence | by Evolve Machine Learners, diakses Agustus 5, 2025, https://medium.com/evolve-machine-learners/kesalahpahaman-umum-tentang-artificial-intelligence-343b94809f1d
  24. Penggunaan AI dalam Percakapan dapat Menimbulkan Kesan Anti Sosial, diakses Agustus 5, 2025, https://nationalgeographic.grid.id/read/133755544/penggunaan-ai-dalam-percakapan-dapat-menimbulkan-kesan-anti-sosial?page=all
  25. BD107 Artificial Intelligence – Week 11 – Klarifikasi Kesalahpahaman Umum Tentang AI, diakses Agustus 5, 2025, https://bisnisdigital.raharja.ac.id/bd107-artificial-intelligence-week-11-klarifikasi-kesalahpahaman-umum-tentang-ai/
  26. Why Indonesia’s AI-Powered Ad is Making People Angry | by Zakki Mahfud – Medium, diakses Agustus 5, 2025, https://medium.com/@zakkimahfud/why-indonesias-ai-powered-ad-is-making-people-angry-71bc8e1c8fa3

Kisah tangkapan Aryan Khan jadi topik hangat hampir seluruh dunia #fyp… | TikTok, diakses Agustus 5, 2025, https://www.tiktok.com/@sinarharianonline/video/7103065774830505217

indoparameter

indoparameter

Next Post

Satu Colokan Berdua

ADVERTISEMENT

Recommended

GenPI Lamtim Apresiasi Digelarnya Pentas Budaya di Pasar Gemati

GenPI Lamtim Apresiasi Digelarnya Pentas Budaya di Pasar Gemati

4 tahun ago
KNPI Kota Metro Punya Nahkoda Baru! Ini Visi Saka Zulinta

KNPI Kota Metro Punya Nahkoda Baru! Ini Visi Saka Zulinta

1 tahun ago

Popular News

  • Hoax, Berita Tanggul Way Ratai Tidak Ada Yang Ambrol. BPBD Lampung Sebut Kabar Itu Fitnah

    Hoax, Berita Tanggul Way Ratai Tidak Ada Yang Ambrol. BPBD Lampung Sebut Kabar Itu Fitnah

    12 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Lampura ada Putra Terbaik, Sebagai Anggota DKPP Periode 2022-2027

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pertemuan yang singkat dengan Wakil Direktur yang ramah sungguh berkesan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Fauzi Heri: Jangan Sampai Lampung Dijadikan Tempat Usaha, tetapi Hanya Mendapatkan Kotorannya Saja

    11 shares
    Share 4 Tweet 3
  • Implementasi Saddu Zariah pada Puasa Ramadhan Bulan Magfiroh

    13 shares
    Share 5 Tweet 3

Daerah

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan
Bandar Lampung

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan

by indoparameter
Mei 19, 2026
0

Bandar Lampung — indoparameter.com, Sekretariat Bersama (Sekber) tiga asosiasi media konstituen Dewan Pers di Provinsi Lampung yang terdiri dari SMSI,...

Read more
MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

Mei 18, 2026

Network

Category

  • Bandar Lampung
  • Budaya
  • Business
  • Cerpen
  • Daerah
  • DPRD Bandar Lampung
  • DPRD Lampung
  • Ekonomi
  • Health
  • Hukum
  • Indoparameter TV
  • Informasi
  • jakarta
  • Kuliner
  • Kuliner Metro
  • Lampung Barat
  • Lampung Selatan
  • Lampung Tengah
  • Lampung Timur
  • Lampung Utara
  • Lifestyle
  • Makanan
  • Metro
  • Nasional
  • Olah raga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pengenalan Produk
  • Politics
  • Politik
  • Puisi
  • shopee
  • Sosial
  • Sports
  • Travel
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Way Kanan
  • Zona Tauhid

Pemerintahan

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan
Bandar Lampung

Sekber 3 Asosiasi Pemilik Media dan DPRD Lampung Bahas Dampak Ekonomi MBG, Duit Mengucur ke Lampung Tembus Rp1 Triliun per Bulan

by indoparameter
Mei 19, 2026
0

Bandar Lampung — indoparameter.com, Sekretariat Bersama (Sekber) tiga asosiasi media konstituen Dewan Pers di Provinsi Lampung yang terdiri dari SMSI,...

Read more
MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran
Bandar Lampung

MBG Tuai Sorotan, Ketua SMSI Lampung: Program Mulia Perlu Kontrol Ketat agar Tepat Sasaran

by indoparameter
Mei 18, 2026
0

(SMSI) Bandar Lampung – INDOPARAMETER.COM, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program nasional pemerintah sebagai upaya meningkatkan...

Read more
  • Laman Depan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2021 IndoParameter - Premium Theme.

No Result
View All Result
  • Budaya
  • Daerah
    • Metro
    • Bandar Lampung
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Selatan
  • Kuliner
    • Kuliner Metro
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Pemerintah
  • Pariwisata
  • Opini

© 2021 IndoParameter - Premium Theme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In