Cerpen: Satu Colokan Berdua | Oleh: Ahmad Satibi
Kafe ini, udah kayak markas keduaku. Aku suka banget vibe-nya yang kolonial tapi modern. Wanginya itu lho, campuran aroma biji kopi Lampung yang baru digiling sama manisnya kue-kue yang
dipajang di etalase. Surga. Biasanya aku bakal nongkrong di pojokan favoritku, tenggelam dalam dunia di layar digital 5,5 inch.
Sore itu, seperti biasa, aku lagi asyik nge-scroll. Pikiranku lompat-lompat dari video kucing lucu, balas chat teman, sampai stalking akun travel yang fotonya bagus-bagus. Aku nggak pernah merasa kesepian. Buatku, sendirian itu beda sama merasa sendiri. Duniaku udah ramai sama notifikasi dan koneksi online. Aku udah ngerasa cukup dan puas sama hidupku yang tenang. Nggak lagi aktif nyari pacar atau drama-drama percintaan.
Tapi kalau mau jujur, jauh di dalam hati, ada sesuatu. Bukan rasa hampa, sih. Lebih kayak kangen sama sesuatu yang nggak jelas. Bukan kangen orang, tapi kangen sama sebuah klik koneksi instan yang lebih nyata dari sekadar like di Instagram. Kayak dua sinyal yang langsung nyambung tanpa perlu kata sandi.Tapi itu cuma lamunan iseng, sesuatu yang kusimpan buat diriku sendiri.
Justru karena hidupku lagi adem ayem, aku nggak sadar kalau sebentar lagi bakal ada “gempa” emosional. Ketenanganku adalah panggung yang sempurna untuk sebuah pertemuan yang bakal mengubah segalanya.
Getaran Aneh
Perubahannya nggak dimulai dari suara atau pemandangan. Awalnya cuma perasaan aneh. Lonceng kecil di atas pintu kafe bunyi, suara yang udah biasa kudengar. Tapi kali ini, rasanya beda. Suara obrolan dan denting cangkir yang tadinya jadi musik latar yang nyaman, mendadak terasa menjauh.
Aku nggak langsung noleh. Aku ngerasain ada getaran aneh di udara, semacam vibe yang beda, yang bikin bulu kudukku berdiri. Seolah-olah ada yang baru aja mengubah playlist tak terlihat di kafe ini, dari lagu indie akustik jadi sesuatu yang lebih intens. Penasaran, akhirnya aku mengangkat kepala dari layar HP. Di dekat pintu, seorang cowok lagi pesan kopi. Seketika, duniaku jadi nge-blur. Barista, pengunjung lain, semuanya jadi latar belakang. Fokusku cuma satu: dia. Kayak efek bokeh di kamera HP.
Aku nggak bisa lihat wajahnya dengan jelas, cuma siluetnya. Tapi ada sesuatu dari cara dia berdiri dan bergerak yang anehnya terasa familier. Ini bukan cinta pada pandangan pertama. Ini lebih aneh lagi: semacam deja vu sebelum tatapan pertama. Rasanya kayak ada koneksi yang udah terasa di
udara, bahkan sebelum mata kami sempat ketemu. Senggolan Tak Terduga Cowok itu, Randi, jalan santai mencari tempat duduk. Aku ngeliatin dia, jantungku mulai jedag-jedug nggak karuan. Aku coba balik fokus ke HP, tapi notifikasi yang masuk jadi nggak ada artinya. Tiba-tiba, notif baterai lemah muncul di layarku. Sial, cuma 5%. Mataku langsung liar mencari colokan. Cuma ada satu yang kosong, di pilar dekat mejaku.
Dengan sigap, aku bangkit. Tapi ternyata, aku nggak sendirian. Randi, yang kayaknya juga baru sadar HP-nya sekarat, jalan ke arah colokan yang sama. Dan serempak, tangan kami terulur ke arah port charger satu-satunya itu. DEG. Pas punggung tangan kami bersentuhan di dinding pilar yang dingin, duniaku kayak di-pause. Semua suara hilang. Hening total. Yang kerasa cuma senggolan itu. Kayak ada setrum hangat yang menjalar dari kulitku, naik ke lengan, dan meledak pelan di dadaku. Kehangatan yang anehnya terasa kayak “pulang”—ke tempat yang aku bahkan nggak sadar kalau aku kangenin. Senggolan singkat itu adalah bukti. Firasat aneh yang kurasakan tadi bukan cuma halu. Ini beneran nyata. Koneksi itu udah terjadi di badanku, dan nggak mungkin bisa kuabaikan lagi.
Obrolan Mata
Kami berdua langsung narik tangan, canggung banget. Waktu mulai jalan lagi, tapi rasanya lambat banget. Lalu, mata kami ketemu. Di situlah obrolan yang sesungguhnya terjadi, tanpa satu kata pun
keluar. Aku natap sepasang mata cokelat hangat, dan aku ngelihat keterkejutan dan perasaan “klik” yang sama persis dengan yang kurasakan. Rasanya kayak lagi deep talk, tapi lewat mata. Anjir, siapa nih orang? batinku. Kok kayak udah kenal lama, ya? mungkin itu yang ada di pikirannya. Keheningan di antara kami jadi penuh arti. Akhirnya, dia yang buka suara, suaranya agak serak sambil senyum canggung. “Eh, sori. Duluan aja.”
Satu kalimat itu, dalam situasi normal, cuma basa-basi biasa. Tapi di sini, artinya jauh lebih dalam. Kalimat itu kayak kode buat bilang, “Gue juga ngerasain, lho. Nggak tahu ini apa, tapi gue ngerasain.” Aku cuma bisa geleng-geleng pelan. “Eh, iya… gapapa. Lo aja.” Jawabanku juga sebuah kode. Artinya, “Gue juga, dan rasanya… gila, sih.”
Kata-kata kami terdengar canggung dan biasa banget, karena apa yang kami rasakan terlalu besar untuk diungkapkan. Komunikasi yang sebenarnya terjadi lewat tatapan mata kami, cara dia sedikit miringin kepala, dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat di bibirnya. Keintiman kami lahir di ruang sunyi di antara kata-kata canggung itu.
After-effect
Tapi ya, momen kayak gitu nggak bisa bertahan selamanya. Akhirnya Randi yang mengalah dan kembali ke mejanya, mungkin dia punya power bank. Dia senyum tipis ke arahku sebelum pergi, senyum yang isinya ribuan pertanyaan dan janji yang nggak terucap. Aku masih bengong di tempatku, kabel charger di tangan, tapi aku lupa mau ngapain. Aku liatin punggung tanganku yang tadi bersentuhan dengan tangannya. Rasa hangat dari senggolan tadi kayaknya masih nempel di sana.
Pas aku akhirnya duduk lagi, yang kurasakan bukan lega karena dapat colokan. Tapi sebuah kerinduan yang nusuk banget. Kerinduan yang sekarang punya nama, punya wajah. Bersamaan dengan itu, ada sebuah keyakinan yang aneh. Ini bukan akhir. Ini baru chapter one. Pertemuan singkat itu udah nulis ulang cerita hidupku. Duniaku yang tadinya cuma sebatas layar HP, sekarang terasa hambar. Dan masa depanku? Sekarang punya satu tujuan: harapan buat ketemu Randi lagi. Aku menancapkan chargerku. Layar HP-ku menyala, penuh notifikasi.
Tapi untuk pertama kalinya, semua itu terasa nggak penting. Mataku malah sibuk mencari sosoknya di seberang ruangan. Hening di kepalaku sekarang diisi sama gema dari sebuah koneksi. Dan dalam keheningan itu, aku menunggu. Bukan dengan cemas, tapi dengan keyakinan tenang dari seseorang yang baru saja menemukan sinyal yang hilang dari hidupnya.








