Kenapa Petani Kita Sulit Sejahtera?
Oleh Riki Sanjaya Alam
Di banyak sudut desa dan kota di Indonesia, kita masih sering mendengar kalimat bernada sinis: “Kalau nggak bisa sekolah, ya jadi petani saja.”Kalimat itu terdengar sepele, tapi sesungguhnya mencerminkan cara pandang yang keliru terhadap profesi petani. Seolah-olah bertani itu adalah pilihan terpaksa, jalan buntu bagi mereka yang tak punya kesempatan pendidikan. Seolah-olah petani adalah mereka yang “gagal” dalam hidup.
Padahal, setiap hari kita semua makan nasi yang ditanam petani, menyeduh kopi dari kebun petani, mencicipi buah dan sayur yang tumbuh berkat keringat mereka. Ironis, bukan? Makanan yang kita nikmati di meja makan adalah hasil kerja keras orang-orang yang justru sering dipandang rendah. Tanpa petani, tidak akan ada nasi di piring kita, cabai di dapur, atau buah segar di keranjang belanja. Setiap butir beras, semuanya adalah buah tangan para petani. Mereka bekerja sejak subuh, mengolah tanah, menabur benih, melawan hama, menunggu musim panen yang tak selalu bersahabat. Itu bukan pekerjaan ringan. Itu pekerjaan yang membutuhkan ketekunan, kecerdikan, dan cinta pada tanah.
Bertani sejatinya bukan lagi sekadar soal cangkul dan tanah. Dunia pertanian semakin modern. Petani masa kini dituntut untuk memahami teknologi pertanian, pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, bahkan pemasaran berbasis digital. Di banyak negara maju, bertani adalah profesi terhormat, bahkan banyak lulusan universitas yang memilih kembali ke desa, menjadi petani modern yang membawa ilmu pengetahuan dari bangku perkuliahan .Namun di balik semua itu, realitas di lapangan jauh dari gambaran ideal.
Justru hari ini, banyak petani di Indonesia yang menghadapi kesulitan. Mereka yang ingin bertani malah dipersulit. Harga pupuk melambung, distribusinya tidak merata, sementara kebutuhan di lapangan mendesak. Proses penjualan hasil panen pun membingungkan. Tidak jarang, petani bingung harus menjual ke mana dan bagaimana caranya. Ambil contoh petani singkong di Lampung. Dulu, singkong menjadi komoditas andalan. Tapi kini, para petani singkong kian terjepit. Menjual hasil panen ke pabrik semakin sulit. Ada banyak aturan yang tidak jelas, proses yang berbelit, harga yang ditekan. Petani seringkali kalah posisi tawar. Mereka hanya bisa menerima harga yang ditentukan oleh tengkulak atau pabrik, tanpa punya banyak pilihan. Hasil panen yang mestinya menjadi berkah, justru kadang terasa seperti beban.
Di tengah semua tantangan itu, banyak petani muda sebenarnya ingin bangkit. Banyak anak muda desa ingin belajar bertani secara modern, ingin memanfaatkan lahan warisan orang tua mereka. Tapi keinginan itu sering kandas karena ekosistem yang tidak ramah—sulitnya akses modal, ketidakpastian harga, kurangnya perlindungan pasar. Mereka yang ingin bertani malah dipaksa menyerah di tengah jalan. Inilah saatnya pemerintah turun tangan lebih serius. Tidak cukup hanya dengan program seremonial atau bantuan yang sekadar formalitas. Yang dibutuhkan petani hari ini adalah solusi nyata.Pemerintah harus memastikan distribusi pupuk subsidi berjalan adil, tepat sasaran, dan mencukupi kebutuhan petani. Jangan sampai pupuk justru jatuh ke tangan yang tidak berhak atau diperjualbelikan di luar jalur resmi.
Selain itu, regulasi tata niaga hasil pertanian perlu diperbaiki agar lebih berpihak kepada petani. Jalur distribusi harus dipermudah, akses pasar dibuka selebar-lebarnya secara jujur dan transparan, sehingga petani memiliki kekuatan tawar dan tidak terus-menerus menjadi pihak yang dirugikan dalam rantai perdagangan Pemerintah juga perlu mendorong terbentuknya koperasi tani yang kuat dan sehat. Melalui koperasi, petani dapat lebih mandiri dalam pemasaran hasil panen, serta memiliki posisi yang lebih baik untuk bernegosiasi langsung dengan pabrik atau pasar besar. Di sisi lain, pelatihan dan pendampingan bagi petani untuk mengembangkan pertanian modern sangat penting dilakukan. Pemerintah harus memberikan akses teknologi, perbankan, serta informasi pasar yang memadai, agar petani mampu beradaptasi dan bersaing di era digital yang serba cepat ini.
Bertani bukan takdir orang yang tak sekolah. Bertani adalah pilihan sadar, pilihan yang layak dihormati. Sebab di balik sebutir beras yang kita makan, ada peluh dan harapan para petani.Kini saatnya kita, sebagai masyarakat, mengubah cara pandang. Menghormati petani bukan dengan mengasihani, melainkan dengan memberi tempat yang layak bagi mereka dalam arus pembangunan bangsa. Dan pemerintah harus hadir, bukan sekadar sebagai pengatur, melainkan sebagai sahabat yang melindungi dan memberdayakan petani. Karena tanpa petani, Indonesia bukan saja kehilangan pangan, tetapi kehilangan denyut kehidupan itu sendiri.









