BANDAR LAMPUNG -Ketenangan warga di sekitar Arwana Homestay, Teluk Betung Selatan pecah saat puluhan massa yang terdiri dari tokoh agama, pemuda, dan warga setempat melancarkan aksi penggerudukan pada Jumat, (9/1/2026) malam.
Aksi yang berlangsung sekitar pukul 20.00 WIB ini dipicu oleh kekecewaan mendalam warga yang merasa dikelabui oleh operasional penginapan tersebut.
Sejak awal berdiri, pengelola mengklaim tempat tersebut sebagai penginapan berbasis syariah, namun warga justru mendapati dugaan praktik operasional bebas tanpa aturan pasangan sah.
Ketegangan di lokasi tersebut mendadak menjadi konsumsi publik setelah sebuah video reels diunggah oleh akun Facebook Akang Edi pada Minggu, (11/1/2026) pagi.
Video yang memperlihatkan kerumunan massa di depan penginapan itu langsung memancing atensi luas dari netizen.
Dalam keterangan unggahannya, disebutkan bahwa keresahan warga memuncak karena tempat tersebut sempat dikira sudah tutup permanen, namun ternyata kembali beroperasi secara diam-diam dengan pola yang sama.
Guna mencegah terjadinya aksi anarkis, sejumlah aparat dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas tampak bersiaga di lokasi untuk melakukan pengawalan.
Kehadiran petugas memastikan tuntutan warga agar pemerintah segera mencabut izin dan melakukan penutupan permanen tersampaikan dengan kondusif.
Hingga saat ini, warga dilaporkan masih dalam posisi bersiaga sembari menunggu ketegasan dari pihak berwenang mengenai status operasional bangunan tersebut.
Kehadiran video tersebut di jagat maya memicu perdebatan sengit mengenai moralitas dan etika bisnis di pemukiman warga.
Akun Meiji Rifto dalam komentarnya secara tegas mendukung langkah warga dengan menuliskan, “Tutup…aja.. jangan biarkan berbuat Zina.”
Dukungan serupa juga datang dari akun Bang Warso yang berkomentar singkat, “Waduuh wajib di tutup om,” sebagai bentuk desakan agar praktik tersebut segera dihentikan.
Di sisi lain, tidak sedikit netizen yang melihat persoalan ini dari sudut pandang hak individu dalam mencari nafkah. Akun Uncu Yuliza melontarkan pendapat kontras yang menyoroti sisi ekonomi pemilik penginapan.
“Orang usaha kan banyak model dan cara biar ajalah itu urusan dia pribadi dengan cara mencari nafkah untuk keluarga perkara itu dosa atau enggak biar sang pemilik alam semesta yang memutuskan,” tulisnya di tengah riuhnya kolom komentar.
Sampai berita ini dimuat, unggahan video pada Minggu pagi tersebut telah dibagikan sebanyak 138 kali dan terus mengumpulkan berbagai reaksi.
Polemik ini kini menyisakan pertanyaan besar bagi publik dan pemerintah daerah mengenai pengawasan izin penginapan di wilayah pemukiman, terutama yang menggunakan label syariah namun diduga melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat setempat._(red)_









