Indoparameter.com – Penutupan sementara kawasan wisata di Taman Nasional Way Kambas usai insiden tragis yang menewaskan Kepala Desa Braja Asri akibat serangan gajah liar memantik perhatian serius dari DPRD Provinsi Lampung.
Meski langkah penutupan dinilai wajar demi keselamatan, DPRD mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak berlangsung terlalu lama karena berpotensi memukul citra pariwisata Lampung yang selama ini dikenal dunia melalui Way Kambas.
Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, mengatakan kawasan konservasi tersebut bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan ikon konservasi gajah Sumatra yang sudah mendunia.
“Way Kambas ini aset wisata Lampung yang mendunia. Kejadian meninggalnya Kepala Desa Braja Asri tentu sangat memprihatinkan. Penutupan sementara bisa dipahami demi keselamatan, tetapi jika terlalu lama tentu sangat disayangkan,” ujar Mikdar, Rabu (21/1/2026).
Selama ini, kata dia, Way Kambas menjadi magnet utama wisatawan mancanegara yang datang ke Lampung untuk melihat langsung proses konservasi dan pelatihan gajah Sumatra di kawasan tersebut.
Namun saat ini akses wisata dibatasi dan hanya dibuka untuk kegiatan penelitian serta program magang. Kondisi itu dikhawatirkan dapat membuat minat kunjungan wisatawan asing menurun.
“Wisatawan asing datang karena Way Kambas terkenal dengan konservasi dan pelatihan gajahnya. Kalau penutupan berkepanjangan, tentu akan berdampak pada kunjungan wisata dan citra Lampung secara global,” tegasnya.
Di sisi lain, DPRD Lampung mengapresiasi langkah cepat Prabowo Subianto yang dinilai menunjukkan kepemimpinan tegas dalam merespons konflik manusia dan satwa liar di kawasan tersebut.
Melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, Presiden telah mengarahkan pembangunan pagar permanen di kawasan Way Kambas sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah konflik antara gajah dan manusia.
“Ini bentuk nyata perhatian Presiden. Pemagaran adalah solusi strategis yang sudah lama dibutuhkan. Dengan pagar permanen, masyarakat terlindungi, wisatawan aman, dan gajah tetap terjaga habitatnya,” jelas Mikdar.
Ia menjelaskan pembangunan pagar tersebut akan tetap mengikuti ketentuan konservasi agar tidak mengganggu ekosistem kawasan hutan lindung nasional.
DPRD Lampung juga mencatat perhatian terhadap Way Kambas datang dari komunitas internasional, termasuk wisatawan asal Inggris yang selama ini aktif mendukung program konservasi gajah di Lampung.
Hal ini memperkuat posisi Way Kambas sebagai salah satu simbol diplomasi lingkungan Indonesia di mata dunia.
“Presiden sudah menyampaikan langsung kepada Gubernur Lampung. Informasinya pengajuan anggaran pemagaran ke Kementerian PUPR sekitar Rp105 miliar,” ungkapnya.
Dengan adanya komitmen anggaran tersebut, DPRD Lampung mendorong percepatan pembangunan pagar agar kawasan wisata Way Kambas bisa kembali dibuka untuk publik.
“Way Kambas harus segera dibuka kembali setelah sistem pengamanan terpenuhi. Ini bukan hanya soal wisata, tapi juga soal kebanggaan Lampung dan Indonesia di mata dunia,” pungkas Mikdar.
(***)









